WHAT'S NEW?
Loading...
Showing posts with label Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan. Show all posts

Banyak hal yang bisa  dilakukan Perawat di Pelayanan kesehatan dalam rangka penyembuhan pasien (klien). Fokus utama Perawat adalah memberikan pelayanan Asuhan Keperawatan, bukan memberi pengobatan. Muara dari Asuhan Keperawatan adalah bagaimana Perawat memberi perhatian penuh pada klien.

pekerjaan-tanggung-jawab-perawat

Perhatian yg bagaimana? Yaitu, perhatian yang menyeluruh, sinkron kiprah perawat sebagai advokat, yakni keluhan klien bisa didengar oleh Perawat. Klien juga ingin di atasi keluhannya dan klien pula ingin ada solusi yg jelas pada setiap masalahnya. Pertanyaannya sudahkah Perawat hari ini menjalankan kiprah sebagai pemberi advokasi?

Selain menjadi advokat, Perawat juga berperan sebagai edukator, yakni menaruh pendidikan kesehatan kepada klien. Menjelaskan hal-hal yang nir diketahui klien mengenai diagnosa penyakitnya, juga tentang bepergian penyakitnya serta penerangan tindakan yg akan dilakukan kepadanya. Banyak hal-hal umum & khusus yg ingin diketahui pasien terkait kesehatannya. Pertanyaanya, sudahkah Perawat hari ini Menjalankan Perannya menjadi edukator?

Kenyataan dilapangan Peran Perawat sebagai advokat & educator tak jarang terlupakan, Perawat hari ini cendrung melakukan tindakan pengobatan, bagian berdasarkan tindakan kerja sama. Dan kadang-kadang Perawat disibukan menggunakan urusan administrasi.

Peran Perawat sebagai pembela terdakwa resmi & edukator kadang tidak aporisma, bila diamati dari rasio antara klien dan Perawat pada bangsal Perawatan Rumah Sakit. Untuk satu shift dinas, biasanya maksimal Perawat pelaksana tiga orang & shift sore atau malam bisa-sanggup hanya dua orang Perawat, sedangkan klien yang akan dirawat 20-40 orang pada bangsal.

Jika 20-40 orang klien pada berikan Asuhan Keperawatan sang dua orang Perawat pada waktu 1 shift dinas, cita rasanya Perawat kesulitan menjalankan kiprahnya menjadi pengacara atau edukator, lantaran ketika 8 jam satu shift dinas tidak relatif buat itu. Yah, akhirnya, Perawat menjalankan rencana keperawatan sinkron prioritas saja, yg mendesak waktu itu.

Kira-kira demikianlah pandangan Medianers, tentang "Sudahkah Perawat Menjalankan Perannya? " Seperti biasa jika menarik, silahkan dibagikan melalui tombol share di bawah, dan kalau ada yang kurang tepat atau perlu di tambahkan sampaikan di kotak komentar. Oh ya, jangan lupa baca 8 Alasan Menjadi Perawat.

Medianers ~ STR yakni singkatan dari Surat Tanda Registrasi yang wajib di miliki oleh Perawat. STR merupakan syarat legalitas dalam menjalankan praktek keperawatan, bahkan Perawat warga negara asing wajib memiliki STR jika ingin melakukan praktek keperawatan di Indonesia.

Menurut peraturan Undang-Undang RI No.38 tahun 2014 mengenai Keperawatan dalam Bab IV, persyaratan pengurusan STR mencakup:

  1. Memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan.
  2. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi.
  3. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental.
  4. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi.
  5. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
Seperti pengurusan sebelumnya, yaitu STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali.

Pertanyaanya siapa yg akan mengeluarkan STR Perawat?

Berdasarkan Undang-Undang Keperawatan yang punya wewenang mengeluarkan STR adalah Konsil Keperawatan, hal tersebut tertuang pada Bab IV Pasal 18 Ayat dua mengenai Registrasi, Izin Praktek dan Registrasi Ulang.

Selain berwenang mengeluarkan STR, Konsil Keperawatan pula berhak mencabut Surat Tanda Registrasi yang telah pada berikan pada Perawat jika suatu waktu melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan sesuai peraturan.

Sudah Adakah Konsil Keperawatan yg sah mengeluarkan STR Perawat?

Saat ini, (11/4/2015) Jawabnya belum. Masih dari UU Keperawatan, bahwa Konsil Keperawatan menjadi badan Independen dan otonom yang terdiri menurut aporisma 9 anggota.

Keanggotaan Konsil Keperawatan terdiri atas unsur Pemerintah, Organisasi Profesi Keperawatan, Kolegium Keperawatan, asosiasi Institusi Pendidikan Keperawatan, asosiasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan tokoh warga .

Pemilihan anggota Konsil Keperawatan ini sedang proses pembentukan tim, yg nantinya mengenai susunan organisasi, pengangkatan, pemberhentian, & keanggotaan Konsil Keperawatan diatur dengan Peraturan Presiden.

Kemudian Konsil Keperawatan dibuat paling lama 2 (2) tahun semenjak Undang-Undang Keperawatan diundangkan. Sejak Undang-Undang No. 38 mengenai Keperawatan disahkan pada lepas 17 Oktober 2014, maka seluruh Peraturan Perundang-undangan yg mengatur tentang Keperawatan dinyatakan masih permanen berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dari Undang-Undang ini.

Atas dasar itu, Perawat yang ingin mengurus & memperpanjang izin STR, sampai Konsil Keperawatan terbentuk yang pada absah kan sang pemerintah, maka buat sementara saat masih sanggup mengurus STR melalui organisasi PPNI pada darah asal untuk diteruskan ke MTKI sebagaimana yang sudah diatur oleh Permenkes No. 1796.

Apa sih substansi dari Permenkes tersebut, anda ingin tau? silahkan dibaca ulasannya pada artikel lawas saya berjudul "Tenaga Kesehatan (Tidak) Kompeten Tersingkir oleh Permenkes No. 1796"

Kira-kira demikianlah tentang syarat pengurusan STR bagi Perawat di Indonesia. Jika anda merasa bermanfaat artikel ini, silahkan bagikan pada Sejawat lainnya, namun jika ada masukan silahkan sampaikan di kotak komentar.(AW)

Diantara bukti, lahirnya Permenkes no. 148 tahun 2010 mengenai izin dan penyelenggaraan praktek Perawat. Dan, yang paling dinantikan sang profesi Perawat, disahkannya Undang-Undang Keperawatan.

Sebelum lahirnya Permenkes no.148 tahun 2010 dan Undang- Undang no 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, setiap Perawat yg buka praktek mandiri di rumah, di hantui rasa ketakutan, sebab belum adanya aturan yg mengizinkan, membolehkan Perawat melakukan praktek mandiri.

Dengan disahkannya Undang-Undang Keperawatan, Perawat yang umumnya telah melakukan praktek dirumah boleh merasa lega. Terpenting lengkapi syarat perizinan dan dirikan papan nama sebagai bentuk pemberitahuan. Sebab, pada Undang-undang Keperawatan jika Perawat ingin buka praktek berdikari, maka harus mendirikan papan nama, andai saja tidak, maka Perawat di anggap praktek ilegal. Artinya terbalik dengan dulu sebelum tahun 2010, Perawat buka praktek mandiri pada tempat tinggal secara sembunyi-sembunyi.

Lahirnya Undang-Undang mengenai Keperawatan, bagaikan 2 mata pisau, satu sanggup melukai/mencelakakan pemiliknya dan satu lagi mampu memberi manfaat pada pemiliknya & pengguna jasanya. Seandainya Perawat nir arif dan bijaksana dalam menyikapinya, maka sanggup saja Undang-Undang yg sudah disahkan akan mencelakakan Perawat yg tidak punya biar pada melakukan praktek, sebab aturannya telah kentara. Tidak lagi abu-abu.

Sejak 17 Oktober 2014, sudah disahkannya UU Keperawatan maka Perawat yg ingin dan telah membuka praktek berdikari pada rumahnya maka harus melengkapi persyaratan menjadi berikut:

Mengurus dan wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Keterangannya dapat dibaca di artikel saya tentang " Syarat Pengurusan STR Perawat ".

  1. Mengurus SIPP (Surat Izin Praktek Perawat ) pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat anda berdomisili.
  2. Memiliki ijazah pendidikan D III Keperawatan dan S. 1 Keperawatan + Profesi Ners.
  3. Surat Rekomendasi dari Organisasi Profesi Perawat.
  4. Surat pernyataan memiliki tempat praktik atau surat keterangan dari pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
  5. Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan diatur dalam Peraturan Menteri ?

Tentang poin 6 tersebut, "Ketentuan lebih lanjut tentang perizinan diatur pada Peraturan Menteri" agak rumit aku tahu, sudah ada Undang- Undang kok balik lagi mengacu pada peraturan menteri? Karena aku bukan ahli aturan, jadi tidak dapat menafsirkannya.

Bagi Perawat yang ingin mendirikan praktek mandiri dan yang sudah berpraktik secara sembunyi, bergegaslah melengkapi persyaratan biar praktek sesuai peraturan dan perundangan yg berlaku pada Republik Indonesia, supaya senantiasa masyarakat penerima pelayanan & Perawat sebagai pemberi layanan terlindung menurut aturan yang berlaku.

Apabila anda merasa berguna artikel ini, silahkan bagikan kepada yang lain melalui tombol share di bawah, & jika terdapat yang kurang sempurna pada penyajian, silahkan ditanggapi di kotak komentar.(AW)

Medianers ~ Berbagai alasan mahasiswa Keperawatan dan Perawat yang telah bekerja memilih karir di Keperawatan. Saya sering bertanya kepada mahasiswa Keperawatan yang praktek di Rumah Sakit tempat saya bekerja. "Apa Alasan anda memilih jurusan Keperawatan," tanya Saya.

Pertanyaan serupa pula pernah diajukan sang senior pada Rumah Sakit tempat Saya praktek ketika jadi mahasiswa. Hingga ketika ini, pertanyaan yg sama, masih sering aku tanyakan dalam Sejawat Perawat, "apa karena Anda mau jadi Perawat," dan pertanyaan tersebut juga tak jarang dialamatkan oleh sejawat Perawat lainnya pada Saya.

Pada suatu kesempatan Saya pernah menuliskannya di Medianers, "8 Alasan Menjadi Perawat". Tulisan tersebut juga banyak peminatnya dari blogger yang berlatar belakang Perawat. Saya mengetahui hal tersebut saat memasukkan kata kunci di mesin pencari tentang "Alasan Memilih Keperawatan". Menariknya ada beberapa blog yang memuat artikel Saya (Copy Paste). Ya, bagi Saya tidak masalah anggap saja itu karena mereka suka dan tujuan Saya untuk berbagi tercapai.

Kembali ke topik, aneka macam alasan mahasiswa Keperawatan menentukan jurusan Keperawatan, yang Saya simpulkan secara umum, diantaranya:

  1. Mayoritas Mahasiswa Keperawatan yang saya tanya menjawab, alasan memilih jurusan Keperawatan karena peluang kerja di sektor ini terbuka lebar. Demikian salah satu alasannya.
  2. Rata-rata mahasiswa Keperawatan menjawab, karena keinginan orang tuanya, dan keluarganya. Sebagian, karena orang tuanya juga memiliki basic kesehatan.
  3. Ada juga yang mengatakan, ia memilih jurusan Keperawatan, karena suka dengan pakaian putih dan berkeinginan menolong orang sakit.
  4. Sebagian kecil ada yang salah masuk, karena ketidak tahuan saat memilih jurusan.
  5. Malahan yang paling ekstrim, beberapa mahsiswa Keperawatan memilih jurusan Keperawatan karena tidak lulus di fakultas kedokteran.

Sebenarnya, masih poly alasan mengapa calon Perawat memilih jurusan ilmu Keperawatan, tapi Medianers menuliskan yg dipercaya menarik saja. Dan, Medianers merogoh konklusi nir memakai uji statistik atau penelitian, hanya berdasarkan tanya-jawab dan merogoh suatu kesimpulan secara subjektif.

Di sisi lain, bagaimana alasan Perawat yg sudah bekerja, "apa motivasinya meniti karir di bidang Keperawatan?" Nah, Medianers juga mendapat jawaban yg beragam, antara lain:

  1. Ada yang menjawab, jadi Perawat itu enak, karena profesi yang ia tekuni ini, ia bisa punya pengalaman menarik setiap saat, ia merasa di butuhkan oleh banyak orang.
  2. Ada juga yang memberi alasan karena memang pilihan dari awal.
  3. Bahkan, ada juga yang bilang jadi Perawat sebuah kebetulan, tanpa ia cita-citakan sewaktu kecil.
  4. Dan, ada yang merasa karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik.
  5. Ada yang berapi-api menjawab, " berkat profesi Perawat ia bisa menikmati kemewahan, beli rumah, beli mobil, dll. Jadi, Profesi Perawat, akan ia jalani sepanjang hayat. Berkat jadi Perawat, asap dapurnya selalu mengepul.

Masih misalnya pada atas, kesimpulan ini Medianers tarik berdasarkan wawancara kalem, tanpa penelitian, atau kuesioner ilmiah, jadi alasan memilih keperawatan yang di tuliskan masih subjektif. Agar aktual butuh penelitian.

Bagi pembaca setia Medianers, silahkan dinikmati juga hidangan tentang " Dilema Perawat dalam meniti karir ". Sekian dulu sajian, seperti sebelumnya jika tulisan ini terasa menarik silahkan berbagi melalui tombol share di bawah. Dan jika tertarik copy paste, silahkan beri link credit ke artikel ini. (Nurman).

Saat mengikuti seminar tentang Jenjang Karir Perawat di gedung Tri Arga, Bukittinggi (2/5/2015), saya bertemu teman lama, seorang Perawat yang bertugas di Rumah Sakit Umum milik pemerintah Pusat (Kemenkes) yang terletak di Bukittinggi, ia berstatus PNS golongan II c, lama kerja 3 tahun.

Saya menanyakan, "Sekarang kamu sudah berada di level berapa? Dan berapa uang remunerasi yg engkau terima tiap bulannya?" Saya menanyakan itu sinkron tema seminar yg baru saja aku dengarkan dari narasumber, bahwa RSUP loka beliau bekerja sudah memberlakukan sistim remunerasi pada karyawannya & besar pembayaran dari level/ jenjang karir.

Teman saya bilang, " Status aku , Perawat Klinik 1 (PK1), saat ini mendapat uang remunerasi dua jutaan tiap bulan, umumnya uang remunerasi sudah sanggup diambil tiap lepas 15". Lalu saya bertanya lagi " berapa pendapatan Perawat Klinik 2, 3 dan 4 ?" Ia mengaku tidak tau, yang kentara lebih tinggi berdasarkan pendapatan saya, ungkapnyadanquot;.

"Bagaimana caranya agar kamu bisa sebagai PK 2 ? " Jawabnya, " lengkapi persyaratan, & ajukan dalam sub komite Kredensial, & ikuti ujian kompetensi." Ia menambahkan, "selesainya lulus tes dan persyaratan, level naik, status berubah menjadi PK 2, & kewenangan klinik pun bertambah."

Dari percakapan aku di atas, dapat di artikan bahwa Rumah Sakit Milik Kemenkes (Pusat) yang berada pada daerah, petugasnya sudah mencicipi nikmatnya uang remunerasi & sudah mencicipi bagaimana cita rasanya berjuang meniti karir sebagai Perawat pada Rumah Sakit, aroma prestasi dan kompetisi pun terasa.

Jenjang Karir ini diberlakukan hanya buat Perawat fungsional, nir diberlakukan dalam Perawat yang berada di struktural.

Nah, pertanyaan selanjutnya Bagaimana menggunakan Perawat yg bekerja pada Rumah Sakit Milik pemerintah daerah, maksudnya Rumah Sakit yang bukan di bawah naungan Kemenkes, Apakah sudah merasakan uang Remunerasi?

Hampir 100 persen peserta yang hadir waktu seminar, menurut beberapa daerah yg ada pada Sumbar belum merasakan penjenjangan karir, & merasakan nikmatnya uang remunerasi misalnya yg telah di berlakukan Kemenkes.

Hal itu ketahuan waktu segmen diskusi, alasannya adalah masing-masing wilayah mempunyai kebijakan sendiri, terkait swatantra daerah.

Lalu, bagaimana tentang Jenjang karir Perawat di RSUD milik Pemerintah wilayah? Ternyata, hampir 100 persen akan memulai membangun SOP mengenai Jenjang Karir Perawat.

Lantas, apa saja yg di terima Perawat pada RSUD milik daerah? Perawat yg terdapat pada tempat tinggal sakit wilayah tetap mendapatkan jasa pelayanan, yang hampir seperti dengan sistim remunerasi, tetapi pendapatan tidak merata antara satu menggunakan lainnya.

Kecendrungan sesudah menerima uang masih ada ketidak puasan dengan cara pembagian, jua uang yang diterima kadang nir stabil dan teratur, karena poly pertarungan kepentingan di dalamnya.

Tim pembagi jasa kadang sulit menjelaskan, apabila terdapat pertanyaan menurut keliru satu pihak, atau profesi, " Kenapa aku bisa jasa sejumlah itu? Dan kenapa si dia menerima jasa lebih menurut dalam saya atau kami?" Intinya banyak argumen-argumen ketidak puasan, bukannya bersyukur telah mendapat uang. Malahan berpotensi membangun konflik internal.

Tidak bisa di salahkan oknum yg protes atau , jua nir mampu menyalahkan tim pembagi jasa, alasannya karena ketidak pastian peraturan yg mengikat (produk hukum) tentang pembagian jasa.

Persen-% pembagiannya sanggup saja berubah sewaktu-waktu, jika terdapat galat satu profesi yg merasa sedikit dapat, menggunakan lantang mengkritisi, jika tidak digubris, maka ancaman-ancaman klasik pun sanggup ada, terkait pelayanan. Maknanya, siapa bertenaga ia akan menang.

Bisakah RSUD Milik pemerintah daerah menerapkan sistim jenjang karir dan sistim remunerasi dalam Perawat?

Jawabnya sangat bisa, hanya tinggal mengadopsi apa yg sudah pada terapkan sang Rumah Sakit Umum Pusat milik Kemenkes. Sumber dana remunerasi dari mana? Ya berdasarkan jasa Pelayanan. Yang perlu diperbaiki cara pembagian menurut jenjang karir.

Seperti apa tingkatan jenjang karir? Sebenarnya menurut kesepakatan yg di bentuk melalui komite keperawatan atau mampu pula mengacu dalam standar yang telah ditetapkan Kemenkes dalam RSUP.

Sebagai acuan, bisa pula menggunakan pembagian terstruktur mengenai jenjang karir Perawat yang pernah disampaikan Dewi Irawaty, MA, PhD Ketua Umum PPNI pada RAKERNAS II AIPDIKI 2014, sebagai berikut:

  1. Perawat Klinik I (PK I) adalah: Perawat lulusan D-III atau Ners .
  2. Perawat Klinik II (PK II) adalah:Perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 5 tahun atau Ners dengan pengalaman kerja 3 tahun,  dan mempunyai sertifikat PK-II .
  3. Perawat Klinik III (PK III) adalah: Perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 9 tahun atau  Ners dengan pengalaman klinik 6 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 0 tahun,dan memiliki sertifikat PK-III.
  4. Perawat Klinik IV (PK IV) adalah: Ners dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 2 tahun, dan memiliki sertifikat PK-IV.
  5. Perawat Klinik V (PK V) adalah: Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 4 tahun dan memiliki sertifikat PK-V.
Lanjutannya bisa dilihat seperti bagan dibawah ini: (Update, baca : Dasar Regulasi Penetapan Jenjang Karir Perawat pada Rumah Sakit).

Pendapatan remunerasi Perawat mampu acuannya berdasarkan jenjang karir misalnya di atas, & wewenang klinik pada menjalankan Asuhan Keperawatan menurut klasifikasi jenjang karir. Standar Prosedur Operasional kewenangan klinik, dirumuskan oleh komite sub Kredensial.

Penulis berkeyakinan apabila jenjang karir diterapkan dalam tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, maka Perawat akan terpacu buat terus menaikkan kapasitas dan profesionalitas, baik secara pendidikan dan pelatihan, maupun secara skill dan kemampuan, karena terdapat yang memotivasi buat mendapatkan itu.

Kendala yang dihadapi saat ini, belum satu persepsinya antara komite keperawatan sebagai penggerak, dengan pihak manajemen Rumah Sakit sebagai pembuat keputusan.(AW)

tema-seminar-kredensial-jenjang-karir-perawat-uu-keperawatan

Ketua PPNI Kota Bukittinggi membuka secara resmi Seminar Nasional Keperawatan menggunakan tema " Kredensial, Jenjang Karir Perawat, dan Undang-Undang Keperawatandanquot; di Gedung Tri Arga Bukittinggi, Sabtu dua/lima/2015.

Seminar yang di mulai  pukul 08.00 wib tersebut juga dihadiri oleh, Halma Zaldi, Wakil Walikota Bukittinggi. Beliau mengapresiasi kegiatan tersebut dilaksanakan di Kota Bukittinggi. Dengan mengetuk tiga kali mikropon pertanda kegiatan ilmiah resmi di buka.

Pembicara pada materi Kredensial, rencananya di sampaikan oleh Prayetni dari Kepala Sub Direktorat Rumah Sakit khusus Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisan Medis Kemenkes RI. Kebetulan beliau tidak bisa hadir, ada penugasan mendadak, sehingga ia di gantikan oleh Sugiasih, staf ahli bidang komite keperawatan di Kemenkes.

Dalam penyampaian materi, penulis mengamati Ibu Sugiasih sangat menguasai materi tentang Kredensial dan jenjang karir Perawat, sehingga peserta yg hadir kurang lebih 300 orang kelihatan berfokus mendengarkan. Pada sesi tanya jawab, peserta seminar berebut tunjuk tangan buat mengetahui lebih detil tentang materi Kredensial & jenjang karir Perawat di Rumah Sakit.

Salah seorang peserta, Perawat yang bekerja pada Puskesmas bertanya, " Apakah Jenjang Karir Perawat, misalnya Perawat Klinik (PK 1, PK dua, PK tiga, dan PK 4) sanggup pula diterapkan pada Puskesmas? Serta Komite Keperawatan dan sub Kredensial perlu jua dibentuk di Puskesmas?" Pertanyaan itu ada lantaran sepanjang penyampaian materi oleh ibu Sugiasih tentang pembentukan sub komite Kredensial pada Puskesmas tidak pernah pada singgung, termasuk jenjang karir Perawat pada Puskesmas.

Mengejutkan, ternyata jawaban dari Narasumber, Jenjang Karir Perawat di Puskesmas tidak termasuk dalam Permenkes No. 49 Tahun 2013 , sebagaimana di Rumah Sakit, bahwa Perawat wajib memiliki Komite keperawatan dan sub komite Kredensial yang  mengatur kewenangan klinik dan jenjang karir Perawat.

Meskipun bursa calon ketua umum PPNI telah mengapung pada Munas PPNI ke IX Palembang di Media Sosial, hanya Prof. Achir Yani S Hamid yang aku kenal, dibanding 3 calon kuat lainnya.

munas-ppni-IX-palembang

Apa pasal?

Karena Prof. Achir Yani S Hamid memanfaatkan media umum buat bersosialisasi & menjaring aspirasi Perawat yang ada dimanapun, sedangkan calon lainnya?..Entah kemana.

Saat gempa september 2009 Padang Pariaman (Sumbar), Prof. Achir Yani S Hamid, pernah menelpon saya, menyemangati, memberi support, serta mengirim pulsa Rp. 100 ribu, padahal ia tidak mengenal saya. Yang ia tau saya Perawat berdomisili di Sumbar, dan sedang memberi bantuan kemanusian di Padang Pariaman, daerah paling parah terimbas bencana gempa, alasannya mengirimkan pulsa, agar saya melaporkan sejauh mana perkembangan bantuan kemanusian, apakah butuh Perawat, bantuan dan bagaimana andil PPNI, sayangnya saya tidak bisa melaporkan karena jaringan komunikasi telkomsel saat itu lumpuh.

Prof. Achir Yani mengetahui identitas saya dari ibu Nofiah Ismail  pemimpin Tabloid Ners , kebetulan masa itu (2009) saya agen tabloid tersebut di Sumbar . Alangkah terkejutnya diri ini mendapat semangat dari sang ketua PPNI, yang mau "berempati". Perawat tidak saja harus memikirkan bagaimana kesejahteraan profesi, tetapi bagaimana empati perawat melalui PPNI pada masyarakat?

Hal inilah yang membuat saya terkesan pada Prof. Achir Yani, dan berharap ia memimpin kembali PPNI untuk 5 tahun kedepannya. Yang pintar banyak, apa lagi yang cum laude, tapi yang bersosialisasi dan yang empati itu saat ini mulai langka di zaman hedonis seperti sekarang ini.

Perawat itu nir butuh pemimpin yg tidak sanggup mengakomodasi aspirasi menurut bawah menggunakan cara apapun dan kapanpun, sedangkan prof. Achir Yani mudah menghubunginya via FB. Perawat nir butuh pemimpin yang " melihat keatasdanquot; akan tetapi butuh pemimpin yg ikut merasakan nasib perawat yg dibawah, yg masih memikirkan sesuap pagi & sesuap petang.

Perawat tidak butuh pemimpin yg selalu memikirkan egoisme profesi, tapi butuh pemimpin yg peduli terhadap humanisme. Saya melihat itu ada pada diri prof. Achir Yani .Semoga beliau bersedia dipilih balik dalam Munas PPNI Ke IX di Palembang yang berlangsung 7-10 Mei 2015.

"Semoga Ketum terpilih mampu menjalankan program kerja yang sudah dirumuskan dalam Munas buat diwujudkan lima tahun kedepannya. Dan, berharap pada Ketum terpilih PPNI semakin baik pada masa yang akan datang," ungkap Andi keliru seseorang anggota PPNI pada Sumatera Barat.

Profil Ketum terpilih pada Munas IX PPNI Medianers ambil dari blog ini, sebagai berikut :

Biodata :

  1. Tempat Tanggal Lahir Curup, 3 Agustus 1969.
  2. Alamat : Vila Mutiara jaya M 39/05 Cibitung Bekasi Jawa Barat.
  3. Pekerjaan : Perawat RSIJ, Advokat dan Staf Pengajar PSIK FKK UNJ.
  1. Sekretaris 1, PP-PPNI 2005-2010.
  2. DPP PPNI 2000-2005 : Sekretaris Bidang Pelayanan.
  3. PPNI Komisariat RSIJ: Ketua bidang Organisasi
  4. ILUNI FIK-UI (Ikatan Alumni UI) 2003-2007: Sekretaris
  5. DPKN(Dewan Pelatihan Kerja Nasional) – 2006- 2009
  6. Gerakan Nasional Sukseskan UU Kep 2008-sekarang
  7. Anggota LBH Patriot Bangsa Cab. Jakarta selatan 2007- sekarang
  8. Pengurus PERSI Pusat (kompartemen Keperawatan) 2010-2013
  9. Departemen Diklat MUKISI DKI Jakarta
  10. Anggota Tim Advokasi MUKISI Pusat.
  1. Akper RSIJ, 1991
  2. FIK UI,1998
  3. FH UIC,2007
  1. ICN Kongres tahun Yokohama, 2006
  2. WPR/SEAR (Western Pasific South East Asia Region) meeting for Nursing Regulation, Singapura 2008.

Medianers mengucapkan "Selamat Hari Perawat Internasional" , yg jatuh pada tanggal 12 Mei, bertepatan menggunakan tanggal lahirnya Florence Nightingle, pelopor ilmu Keperawatan. Tema Hari Perawat Internasional ( International Nurses day 2015 ) merupakan " Nurses: A Force for Change: Care Effective, Cost Effective ". Yakni, Perawat meningkatkan kecepatan perubahan: Merawat dengan efektif dan dengan biaya yang efektif.

Jika diamati gambar yg dipublikasikan sang International Council Of Nurses (ICN) yang adalah wadah seluruh Perawat global Internasioal, memberi himbauan kepada semua Perawat yg terdapat pada global, supaya merawat dengan efektif, sejajar dengan porto yang dimuntahkan pasien juga efektif, tujuannya supaya tercipta kesehatan masyarakat semakin baik. Perawat menjadi ujung tombak pelayanan di minta berkecimpung cepat mewujudkannya. Semoga.

Sebutan "Nurse" berlaku umum bagi Perawat di Amerika. Sedangkan spesialisasinya cukup banyak, diantaranya: Certified Registered Nurse Anesthetist ( CRNA)  dan Certified Nurse Midwife (CNM), artinya. Perawat Anestesi dan Perawat Kebidanan.

Sementara pada Indonesia, Perawat yg pernah melanjutkan pendidikan ke Akademi Anestesi (AKNES) atau ke Diploma IV Anestesi Reanimasi nir mengaku lagi sebagai Perawat, tapi lebih bahagia di panggil " Penata Anestesi" meskipun basic keilmuannya Keperawatan.

Sedangkan pada Amerika mereka melanjutkan pendidikan/ spesialisasi masih tetap menggunakan istilah Nurse/ Perawat. Ibarat kacang yg tidak akan lupa pada kulitnya.

Demikian pula Bidan. Dahulunya Perawat tamatan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) melanjutkan pendidikan 1 tahun, setelah tamat dianggap Bidan. Saat ini, sudah di buka pendidikan diploma tiga Kebidanan & Strata 1 Kebidanan.

Akan tetapi, tamatannya tidak lagi mengaku sebagai Perawat, karena mereka memang murni pisah profesi dengan Perawat, namun ruang lingkup kerja tidak beda jauh. Sedangkan di Amerika  setinggi apapun ia menguasai ilmu kebidanan, mereka tetap disebut sebagai Perawat Kebidanan ( Certified Nurse Midwives).

Perawat di Amerika diwadahi sang satu organisasi, yaitu ANA ( American Nurses Association). Sedangkan di Indonesia bernama PPNI ( Persatuan Perawat Nasional Indonesia).

Sejak Bidan memisahkan diri berdasarkan Perawat, Bidan pun membangun sebuah organisasi profesi, yang diklaim menggunakan IBI ( Ikatan Bidan Indonesia).

Demikian juga "Penata Anestesidanquot; menciptakan organisasi dianggap IPAI (Ikatan Penata Anestesi Indonesia). Konon informasi, IPAI sedang berusaha melepaskan diri berdasarkan istilah "Perawatdanquot; dan organisasi PPNI.

Sedangkan di Amerika, "Perawat Anestesidanquot; masih mengaku profesinya merupakan Perawat, bukan sebagai Penata & permanen dibawah naungan ANA.

Pada lepas 17 Maret 1974 di sepakati hari lahirnya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Hari bersejarah itu, menjadi bukti Perawat diseluruh indonesia manunggal menciptakan satu wadah dan bersepakat menggunakan sebutan profesi " Perawat."

apabila di buka lagi sejarah, nama Perawat itu dulu bermacam-macam. Diantaranya: Djuru Rawat, Kaum Verpleger,dan lain-lain. Masing-masing pula mempunyai organisasi.

Diantaranya, Perkumpulan Kaum Verpleger fster Indonesia (PKVI), Persatuan Djuru Kesehatan Indonesia (PDKI), Persatuan Perawat Indonesia (PPI), Ikatan Perawat Indonesia (IPI),dll, akhirnya melebur menjadi satu dibawah satu organisasi induk, yakni Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Setelah Perawat Indonesia mengalami poly kemajuan Pesat pada bidang pendidikan. Kembali lagi sebuah keterangan yg "aneh" ada profesi keperawatan yg ingin "keluardanquot; menurut sebutan "Perawat". Ada Apa Denganmu Sejawat?