WHAT'S NEW?
Loading...
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Mungkin anda pula pernah merasa bosan saat menunggu keberangkatan berdasarkan bandara menuju daerah kunjungan.

Apa lagi menunggu berjam-jam. Hal ini juga aku alami, menunggu embarkasi selama 5 jam di bandara, bukan lantaran delay, akan tetapi memang telah jadwal penerbangan, menunggu ditimbulkan jadwal transit.

Apakah anda tidur-tiduran pada kursi sembari menunggu? Atau lihat televisi ? Atau utak-atik gadget? Atau ngobrol sembari cari teman baru? Semuanya merupakan pilihan, tergantung mood dan kesukaan. Atau menonton pertandingan bulu tangkis siaran langsung antara indonesia & china pada saluran trans 7.

Dari dalam gundah, clingak-clinguk sana-sini mendingan menenangkan suasana menggunakan meneguk secangkir kopi menggunakan perlahan sembari menuliskan, tulisan ini. Itulah pilihan yg saya sukai.

delay-transit-di-bandara

Setelah jepret, menulis, meneguk kopi, menunggu dan update, & mendengar ocehan teman.

penerapan-penbagian-jasa-pelayanan-di-rumah-sakit

Aksi mogok kerja tenaga kesehatan di wilayah, semakin mengkhawatirkan. Bagaikan 'endemi' sewaktu-saat bisa menular ke banyak sekali propinsi & daerah pada semua Indonesia.

Hal ini, berawal dari pembagian jasa pelayanan yg belum terorganisir menggunakan baik, sejak di diberlakukannya acara BPJS sang pemerintah sentra.

Silahkan masukan kata kunci di mesin pencari, tentang " Alasan Dokter dan Perawat Mogok kerja terkait pembagian jasa pelayanan", maka anda akan menemukan banyak berita tentang aksi mogok kerja yang dilakukan dokter dan perawat di Rumah Sakit milik pemerintah daerah.

Pertanyaannya mengapa tenaga medis dan paramedis ini tega melakukan aksi mogok, melalaikan pasien? Jawabnya sederhana, karena adanya ketidak adilan pada mendapatkan hak. Hak berupa uang, yg dikenal menggunakan uang jasa pelayanan.

Aksi mogok Dokter dan Perawat terkait pembagian uang jasa pelayanan mayoritas terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD), nir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) milik pemerintah sentra.

Kenapa demikian?

Karena peraturan pembagian jasa tiap-tiap masing RSUD itu tidak sinkron. Pembagian menurut SK Gubernur/ bupati/walikota. Antara Rumah Sakit satu dengan lainnya peraturan pembagian jasa pelayanan akan beragam.

Sedangkan pembagian jasa pelayanan di RSUP milik pemerintah pusat ( Kemenkes) mengacu pada jenjang karir yg telah di tetapkan dari Permenkes. Kebijakan tadi berlaku dalam seluruh fasilitas pelayanan Rumah Sakit pada bawah naungan Kemenkes, tanpa kecuali. Tapi, Peraturan tadi tidak pada adopsi di RSUD milik pemerintah daerah.

Jika ditelusuri, pendapatan antara pihak manajemen RSUD, tidak selaras dengan pihak Medis. Begitu juga antara Paramedis & tenaga penunjang. Pembagiannya mengacu dalam Pergub/Perbup/Perwako. Peraturan tadi dibentuk berdasarkan kesepakatan , yang dimusyawarahkan dalam rapat internal RSUD, kemudian pada ajukan sang pihak RSUD ke Pemerintah Daerah/Pemko.

Di saat penggodokan persentase pembagian jasa pelayanan, umumnya akan terjadi perdebatan alot, dan saling klaim antar profesi, karena seluruh merasa saling berjasa. Di sinilah dasar utama pemicu perseteruan. Ada ketidak puasan menurut galat satu atau keliru 2 menurut masing-masing profesi.

Pihak manajemen RSUD sebagai  penyelenggara kelancaran administrasi dan fasilitas Rumah Sakit tentunya berpendapat mereka yang pantas dapat jasa pelayanan yang banyak. Sementara tenaga Medis sebagai profesi yang dicari pasien untuk berobat, sah-sah saja mengklaim tanpa mereka Rumah Sakit mau jadi apa?

Juga demikian Perawat dan Bidan sebagai tenaga Keperawatan berpendapat, meskipun yang pada cari pasien merupakan energi medis, tanpa Perawat & Bidan sebagai profesi yg menjaga pasien nonstop 24 jam, apakah mungkin di beri uang jasa pelayanan sedikit?

Demikian hal nya tenaga penunjang dan administrasi, mereka pula berhak menjamin, tanpa mereka apakah bisa 'roda' pelayanan sanggup bergulir dengan lancar?

Semua profesi, antar lini, saling membutuhkan, dan saling ketergantungan. Namun, akbar atau kecilnya pendapatan dari kontribusi masing-masing profesi.

Nah, buat mendudukan akbar kecilnya kontribusi pada bentuk persentase ini yang selalu jadi perkara, dan berpotensi menciptakan konflik internal antar profesi, lantaran ketidak puasan, merasa ada yg pada rugikan. Yang akhirnya, melakukan aksi mogok menjadi wujud ketidak puasan , & menjadi pembuktian diri, bahwa tanpa mereka pelayanan akan jadi lumpuh. Dampak akhir, pasien terabaikan, warga marah, anggota dewan turun tangan, akhirnya pemda/pemko menjadi kewalahan.

Apakah aksi mogok kerja menaruh solusi?

Pastinya nir. Aksi mogok kerja dari penulis akan membawa imbas negatif, interaksi antar profesi akan menjadi renggang, menjadi tidak "berkelamakandanquot; hati antara petugas satu menggunakan yg lainnya. Akhirnya kinerja menurun, citra dimasyarakat pun menjadi tidak elok , dan pelayanan ke pasien menjadi terganggu.

Meskipun dimenangkan tuntutan oleh salah satu pihak, belum tentu memuaskan pihak lain, akan ada lagi aksi mogok kerja oleh profesi lainnya, lantaran mereka sanggup saja beropini menggunakan menerangkan siapa kita, maka tuntutan akan dikabulkan, perkiraan penulis saja. Akhirnya, bagaikan lingkaran yg tak solutif.

Sebaiknya bagaimana ?

Penulis berpandangan, apa yang sudah diterapkan oleh Rumah Sakit Umum Pusat milik Kemenkes pada sistim pembagian jasa pelayanan sepatutnya pada adopsi oleh pihak RSUD milik wilayah, dilakukan sistim jenjang karir, setiap tenaga memiliki level/tingkatan. Level berdasarkan, pendidikan, masa kerja, pangkat/golongan, kebijakan berlaku pada semua petugas, tanpa kecuali.

Terkait penerapan jenjang karir, Penulis telah memposting di Medianers dengan judul " Kendala penerapan jenjang karir perawat di RSUD milik pemerintah daerah". Seandainya sistim remunerasi pembagian jasa pelayanan di RSUD milik pemerintah daerah tidak bisa diterapkan berdasarkan jenjang karir, sebagaimana yang telah diterapkan oleh RSUP milik pemerintah pusat, maka idealnya ada semacam peraturan dari kementrian kesehatan cara pembagian yang wajib di taati oleh seluruh RSUD milik pemerintah daerah, bukan pembagiannya hanya berdasarkan kesepakatan oleh beberapa pihak. ( AntonWijaya).

Medianers ~ Banyak teman yang bertanya, "Apa sih manfaatnya menulis di blog? " Menurut Medianers, sangat banyak manfaat menulis di blog. Silahkan simak 10 item manfaat menulis di blog, diantaranya:

1. Untuk melatih kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita

Jika sudah menceburkan diri aktif menulis di blog, atau baru memulai menulis di blog, maka tanpa di sadari, naluri seseorang akan sensitif ingin mengetahui, atau mendalami suatu peristiwa atau kejadian , sebagai bahan untuk di tuliskan.

Jika kegiatan itu secara terus-menerus dilakukan, tanpa anda sadari, anda telah mampu dianggap peka terhadap kenyataan yg terjadi di lingkungan anda.

2. Untuk mengasosiasikan pikiran pada bentuk yang bisa dipahami sang orang lain (pembaca)

Biasanya anda mengelola pikiran tidak sinkron antara satu dengan yang lainnya, dengan menulis anda dituntut mampu mengkaitkan antara pemikiran A, dengan pendapat B, sehingga terjadi kesesuaian pola pikiran antara A dan B yang bisa dipahami oleh orang lain.

Meskipun awal menulis, anda mengalami hambatan, menggunakan terus berlatih anda akan menemukan kemudahan, bagaimana cara mengasosiasikan pikiran dalam bentuk tulisan yg mudah dipahami pembaca. Insha Allah.

Tiga. Mencegah agar otak tidak "baku" dan Persyarafan otak tidak menciut

Menurut dosen saya, beliau dokter ahli syaraf, " Apabila seseorang tidak merangsang persyarafan yang ada di otaknya berpikir, maka sel-sel syarafnya akan menciut, bahkan sel-sel syaraf bisa mati.

Sebaliknya, apabila seseorang selalu merangsang sel-sel syaraf yg terdapat di otaknya berpikir dan menganalisa sesuatu, maka sel-sel syaraf akan berkembang dengan baik, dan akan mudah menangkap segala kabar.

Jadi, keliru satu bisnis agar syaraf yg terdapat pada otak nir menciut, dapat di tangkal menggunakan cara, menulis di blog.

4. Untuk mengawetkan pikiran terhadap pengalaman menarik, pengalaman tidak baik, baik,dll, menjadi bekal dikemudian hari lebih matang dalam menganalisa sesuatu

Jika anda pernah punya pengalaman menarik atau pengalaman buruk akan sesuatu hal, lalu anda tuliskan dan mencoba mendokumentasikan di blog.

Pembaca atau pengunjung blog anda memberi tanggapan, & terjadi interaksi, mungkin terdapat komentar "miring" atau komentar rupawan, maka secara tidak pribadi akan merubah perilaku dan pola pikir anda dikemudian hari terhadap bagaimana cara mengelola sesuatu pengalaman menggunakan bijaksana, dan menganalisanya buat pemugaran di masa yg akan datang.

5. Sebagai bahan pembelajaran yang tidak pernah terdapat akhirnya

Menulis di blog pribadi, banyak hal yang wajib di pelajari, misal, meskipun tulisan yang anda publikasikan bagus, belum tentu di baca banyak orang, sebab blog anda bisa saja belum di indeks oleh mesin pencari atau judul dan konten yang anda buat tidak memenuhi standar Search Engine Optimum (SEO). Dan, banyak faktor lain yang harus di kuasai, seperti tampilan blog, dan cara promosi tulisan di media sosial.

Dengan adanya fenomena demikian, tentunya anda akan berusaha mengetahui, otomatis belajar. Untuk apa menulis apabila pesan yg ingin disampaikan nir dibaca orang? Akhirnya anda akan terus berusaha dan belajar, yang nir akan pernah ada akhirnya, selagi dunia online bersifat bergerak maju.

6. Sebagai bentuk "personal brandingdanquot;

Pastinya, orang pintar mungkin lebih banyak dari anda di lingkungan tempat anda tinggal, atau yang lebih kaya, keren dan ganteng. Tapi, orang-orang diluar sana tidak mengenalnya, tidak mengetahui kemampuannya, tidak bisa dinilai pola pikirnya oleh pembaca dari kota/tempat lain, karena apa?

Karena ia tidak menulis, karena ia tidak pernah men-share isi kepalanya dalam bentuk tulisan.

Suatu waktu anda sanggup saja menerima sebuah penghargaan berdasarkan instansi, organisasi atau menurut sebuah perusahaan, berkat goresan pena anda yang berguna bagi orang poly. Tentunya nilai tawar anda akan naik seiring berjalannya saat.

7. Sebagai hiburan pada kala waktu senggang

Banyak orang mengisi waktu senggangnya dengan main games, bernyanyi, dan bermenung, yang bisa membuat dirinya berfantasi dan menyenangkan.

Seandainya anda sudah berkomitmen dalam diri sendiri buat menulis pada blog, maka, menulis di blog akan terasa nikmat, sebagai hiburan yg membahagiakan diwaktu senggang.

8. Sebagai pemotivasi supaya lebih banyak membaca, karena tanpa membaca, seseorang blogger akan miskin kosa kata

Efek menulis di blog, akan menuntut anda agar membaca lebih banyak tulisan orang lain, baik cetak maupun elektronik. Sebab, anda akan menilai tulisan anda, melalui tulisan orang lain, renyah atau tidaknya isi tulisan kita apa bila enak dibaca oleh orang lain.

Maka berdasarkan itu, di saat anda membaca goresan pena orang lain, terasa legit & renyah, berarti anda akan mengambil pelajaran berdasarkan tulisan tersebut, " ternyata begini yah, goresan pena yang enak dibaca itudanquot;, lirih anda pada hati.

Kemudian, banyak membaca jua buat mencari ide, menambah kosa kata, dan menambah wawasan sebagai bahan tambahan goresan pena.

9. Sebagai pemicu buat terus belajar & belajar sesuatu yang baru

Setelah anda rajin menulis di blog pribadi. Anda akan menemukan banyak kekurangan,dan banyak pertanyaan yang akan berkelabat di otak.

"Bagaimana cara menulis reportase yang baik? Bagaimana cara menulis opini yg menarik? Dan, bagaimana caranya produktif menulis?" Dan banyak lagi yang akan, ingin anda tanyakan, sangat ilmiah, sifat dasar insan, ingin mengetahui poly hal.

10. Sebagai salah satu asal penghasilan

Jika blog anda bagus, tulisan anda "renyah" dan memiliki trafik tinggi, banyak perusahaan yang tertarik untuk bekerjasama dalam program periklanan, yang bisa menghasilkan uang.

Tinggal keputusan anda, ingin menulis sembari berbisnis atau hanya buat menulis semata. Berjalannya saat, anda akan tahu peluang dahsyat, bahwa blog pribadi bisa sebagai "mesin uangdanquot; buat menambah penghasilan.

Demikianlah, dari Medianers, 10 hal manfaat menulis di blog, yang sanggup berdampak luar biasa.(AW).

Medianers ~ Terkait postingan saya tempo lalu, " Apakah Sebaiknya Saya Pakai Kartu BPJS " mendapat tanggapan 'miring' dari teman saya di Media Sosial, juga di ruang komentar. Terkait layanan yang diterima pengguna kartu BPJS belum maksimal, sebagaimana ideal yang diharapkan.

Tanggapan ' miring ' sah-sah saja, memang pelayanan yang didapat pengguna BPJS belum memuaskan, kadang pengguna asuransi ' rakyat' ini hilang kesabaran menungguantrian panjang di poliklinik saat berobat.

Lain lagi ketika menerima resep, merasa obat yg di resepkan dokter bukan obat paten, & lain sebagainya. Di banding berobat menggunakan biaya umum, atau menggunakan asuransi non BPJS pelayanan yg di dapat lumayan memuaskan, pasien mampu menentukan dokter seorang ahli yang pada inginkan, & acum ke Rumah Sakit yang diperlukan.

Perlu diketahui, berobat menggunakan kartu BPJS telah di paket ( di jatah) di atur pada formularium, berlaku nasional. Apabila dokter meresepkan diluar jatah, maka akan berlaku tarif generik. Pun demikian menggunakan jenis tempat rawat inap, bila menginginkan sinkron kehendak, bukan sesuai paket, maka akan berlaku tarif umum.

Bagi pengguna kartu BPJS dari kalangan yg kurang sanggup, mungkin cukup merasa puas, menggunakan tidur dirawatan kelas 3, menggunakan resep obat generik, yg penting penyakitnya terobati dan porto berobat relatif menggunakan angsuran iuran pertanggungan terendah perbulan.

Sedangkan bagi kalangan menengah ke atas, pelayanan demikian jauh berdasarkan asa, umumnya berobat nir pada jatah, namun pada klaim berdasarkan berapa jumlah total biaya , dibayar sang pihak iuran pertanggungan mitra perusahaan loka ia bekerja. Atau dengan mengeluarkan uang langsung.

Bahkan, beberapa Rumah Sakit swasta memberikan antar jemput bagi pasien dengan pelayanan 24 jam, serta memberikan ruang rawat inap senyaman hotel, tinggal pilih, mau berobat dengan dokter apa? Kelas berapa? Mau obat paten? Dan lain sebagainya, tinggal minta.

Sedangkan pengguna asuransi BPJS, pelayanan yang didapat semuanya diseragamkan, menurut paket diagnosa penyakit, bukan dari harapan pasien.

Fakta di atas sebagai duduk perkara, nir semua pengguna kartu BPJS ingin menerima pelayanan seragam, ad interim pemerintah berkeinginan menyeragamkan jenis asuransi pada Indonesia, baik PNS, TNI/Polisi Republik Indonesia, Karyawan Swasta , Masyarakat miskin & Umum. Bahkan wacana pemerintah Rumah Sakit nir boleh mengklasifikasikan tempat rawat inap berjenjang, seperti adanya kelas 2, kelas 1, kelas primer, VIP, & VVIP, namun semuanya harus kelas 3.

Kembali dalam pertanyaan di atas, terkait postingan yg mengundang polemik, " Apakah Sebaiknya Saya Pakai Kartu BPJS ?" Jawabnya iya, bagi masyarakat yg kurang mampu, sedangkan bagi kalangan atas silahkan berobat memakai tarif umum, lantaran pihak asuransi BPJS memberi baku pelayanan seragam, dari paket pengobatan & sistim rujukan yg sudah ditentukan, diluar itu pasien akan ditetapkan selisih tarif atau biaya umum.

Jadi, Mengapa berobat pakai kartu BPJS tidak memuaskan?Karena kepuasaan tiap-tiap orang berbeda, antara orang menengah kebawah dengan kalangan atas, jauh berbeda.

Artinya pelayanan yg diberikan nir bisa diseragamkan. Bagi pasien yang kurang bisa, diterima berobat di Rumah sakit saja sudah bersyukur, nir bagi orang yg berduit, ingin menerima sesuatu sinkron menggunakan jumlah uang yg telah beliau keluarkan. Pelayanan maksimal , sesuai slogan " Pembeli merupakan Raja".(AntonWijaya).

"Kata orang-orang perekonomian Indonesia semakin memburuk, tapi saya lihat kasat mata malah berbeda, ekonomi rakyat Indonesia semakin baik. Indikatornya, lihat mobil-mobil baru banyak beredar, kendaraan roda dua mudah di dapat, gadget canggih dan alat elektronik lainnya bisa di beli dengan mudah." Ungkap teman saya.

Ia menambahkan, " jika perekonomian indonesia buruk, maka kebutuhan luks tersebut tidak bisa di dapatkan". Tandasnya.

Apakah benar alat ukurnya demikian?

Kenyataannya negara maju seperti Jepang, jarang sekali terlihat kendaraan pribadi (mobil dan motor) berseliweran seperti di Indonesia. Apakah perekonomiannya buruk? Jelas jawabnya tidak. Mobil dan motor yang bertebaran di Indonesia adalah produk mereka.

Mereka ( orang jepang ) berlomba-lomba membuat mobil dengan harga murah untuk di pasarkan di Indonesia.

Saat ini, saya yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumbar, pusing karena macet jika mau ke Padang dari Payakumbuh. Setiap hari, kecuali hari libur di Rumah Sakit tempat saya bekerja di sesaki oleh kendaraan roda dua dan roda empat yang parkir. Artinya, produk Jepang benar-benar " menjajah".

Steve job melarang anaknya menggunakan gadget Apple buatannya, anak kecil di negara maju umpama dilarang menggunakan gadget pintar. Termasuk steve job, dedengkot Apple.

Bagaimana dengan kita?

Di negara kita, barometer kesuksesan adalah memiliki, melekat di badannya alat- peralatan canggih dan terbaru, bahkan anak pun di fasilitasi menggunakan gadget, yang belum patut ia gunakan.

Kenyataan, mobil, motor dan gadget yang di miliki di cicil tiap bulan, banyak agen memfasilitasi untuk mendapatkan itu, cukup bermodal slip gaji.

Uang cicilan rakyat Indonesia itu lari ke luar negri. Sementara orang yang membuatnya, tidak menggunakan di negaranya. Sedangkan kita di Indonesia dengan bangga menggunakannya meskipun kreditan.

Nilai Tukar Rupiah Anjlok

tabel-nilai-tukar-rupiah
Sumber : BI

Nilai tukar rupiah terus melemah dan USD merangkak naik dari waktu ke waktu sejak awal tahun 2015. Lihat data BI (5/7/2015) pada gambar ( screenshots).

Terus melemahnya rupiah, menjadi masalah besar bagi negara importir. Yang selalu mendatangkan barang dari luar. Maka sebentar lagi akan terjadi ketimpangan ekonomi yang dahsyat.

Idealnya, bersegeralah bertindak, jangan menunggu, jangan berdiam diri menerima kebijakan pusat dalam membangun perekonomian bangsa yang sedang " terancam".

Berdayakanlah produk lokal apa yang bisa di jual ke luar negri sebanyak-banyaknya. Batu akik mungkin, kekayaan hewani laut, cindera mata, penganan, dll. Segera ekspor. Pemerintah pusat dan daerah wajib  memfasilitasi pengusaha kecil agar produknya bisa bersaing diluar negri.

Ayo dapatkan uang sebanyak mungkin dari luar negri.

Dan, stop mengirim uang rakyat keluar negri. Batasi pembelian kendaraan dari luar negri , batasi alat elektronik dan gadget dari luar negri. Dan produk lainnya.

Wahai penduduk indonesia. Dari sekarang mulailah batasi, hingga 0 persen menggunakan produk luar negri, tapi beli dan gunakanlah produk dalam negri agar pengusaha lokal usahanya semakin baik, dan perekonomian rakyat indonesia menjadi baik dan merata.

Bagi SDM profesional, sebaiknya pergilah keluar negri, bawa dollar sebanyak-banyaknya ke indonesia. (AW).