WHAT'S NEW?
Loading...

Pasien Positif Covid-19 Mayoritas Berusia Diatas 30 Tahun| Bloggout

Medianers ~ Mengikuti perkembangan penularan coronavirus pada Indonesia relatif menarik. Sebab, pasien yg tertular atau dinyatakan positif Covid-19 lebih banyak didominasi berusia di atas 30 tahun, dan aporisma berusia 80 tahun.

Hal tadi terungkap berdasarkan data yang dirilis sang Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

"Pasien positif coronavirus atau Covid-19 telah bertambah 35 orang, sehingga total pasien positif saat ini menjadi 69 orang, " ungkap dr. Achmad Yurianto sebagaimana Medianers kutip dari kemenkes.go.id, Jumat (13/3/2020).

Dari 35 orang yg baru ditemukan dan dinyatakan positif Covid-19 tersebut, dominan berusia pada atas 30 tahun. Dengan rincian, sebanyak dua orang balita, berusia 2 & 3 tahun. Dan, sebesar 3 orang usia pada atas 20 tahun, serta sisanya berusia di atas 30 tahun.

Sebagai berikut data menurut nomor urut dan usia yang dipublikasikan kementerian kesehatan, pada lepas 13 Maret 2020. Pasien angka 37, berusia 43 tahun pria syarat sakit ringan sedang.

Pasien nomor 38, berusia 80 tahun mengalami sakit sedang berat, stabil, nir menggunakan ventilator. Dan, Pasien 39, pria 54 tahun, mengalami sakit ringan sedang. Selanjutnya, pasien angka 40, perempuan 46 tahun tampak sakit ringan sedang.

Pasien angka 41, laki-laki 40 tahun sakit ringan sedang. Pasien nomor 42, pria 66 tahun sakit ringan sedang. Pasien 43, pria 34 tahun sakit ringan sedang. Serta, pasien 44, laki-laki 57 tahun sakit ringan sedang.

Pasien angka 45, perempuan 29 tahun sakit ringan sedang. Pasien 46, laki-laki 30 tahun sakit ringan sedang. Pasien 47, laki-laki 61 tahun sakit ringan sedang. Pasien 48, pria 35 tahun sakit ringan sedang.

Pasien 49, pria 3 tahun (balita) sakit ringan sedang. Pasien 50, pria 59 tahun mengalami perburukan syarat cepat berdasarkan kemarin dan lalu mangkat . Kontak tracing sedang dilakukan Dinkes setempat.

Pasien 51, pria 60 tahun nampak sakit sedang. Pasien 52, wanita 59 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 53, wanita 24 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 55, pria dua tahun, (balita) nampak sakit sedang.

Pasien 55, wanita 26 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 56, laki-laki 58 tahun nampak sakit ringan sedang

Pasien 57, wanita 27 tahun nampak sakit ringan sedang.

Pasien 58, laki-laki 51 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 59, pria 63 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 60, perempuan 25 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 61, perempuan 58 tahun nampak sakit ringan sedang.

Pasien 62, pria 51 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 63, pria 34 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 64, wanita 49 tahun nampak sakit ringan sedang.

Pasien 65, pria 48 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 66, laki-laki 73 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 67, wanita 25 tahun nampak sakit ringan sedang. Pasien 68, perempuan 38 tahun sakit ringan sedang. Pasien 69, perempuan 80 tahun sakit sedang.

Kesimpulan, dari 35 data pasien yang dipublikasikan, sebanyak 2 orang balita, berusia 2 dan 3 tahun dinyatakan positif Covid-19. Dan, sebanyak 3 orang usia di atas 20 tahun, serta sisanya berusia di atas 30 tahun. (Editor: AW)

Terkait : dr. Achmad Yurianto: "Total 69 Orang Dinyatakan Positif Covid-19"

Perawat Paling Rentan Terinfeksi Coronavirus, Ini Alasannya| Bloggout

Medianers ~ Resiko pekerjaan sebagai Perawat tak main-main. Perawat termasuk grup yang paling rentan terinfeksi waktu terjadi pandemi Coronavirus yang melanda dunia misalnya sekarang ini. Termasuk di Indonesia, terkonfirmasi telah puluhan orang positif menderita Covid-19 & mencapai ratusan sedang dalam pemantauan.

Sesungguhnya, Perawat menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan sangat beresiko tertular. Sebab, Perawat 24 jam di tempat tinggal sakit merawat pasien. Kemudian, Perawat pulalah garda terdepan menerima pasien pada Poliklinik maupun pada Instalasi Gawat Darurat (IGD). Maknanya potensi kontak menggunakan pasien nyaris maksimal .

Di Wuhan, China. Perawat hampir putus harapan, tiap hari menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), yg mana sangat tidak nyaman dipakai. Terlihat seperti robot. Wajah dan lisan ditutup rapat, sehingga sulit menghirup udara bebas. Selain itu, paras terlihat remuk-redam sang bekas masker yg menempel ketat.

Bulan lalu, (Februari 2020) di Indonesia,  pernah di 'rumahkan' puluhan Perawat karena 'kecolongan' kontak dengan pasien positif covid-19. Sekarang ini, resiko kontak pun tak terhindarkan. Karena penyebaran Coronavirus masih terjadi di Indonesia yang menjadi perhatian semua pihak.

Apakah Perawat lari dari pekerjaan dengan adanya pandemi Coronavirus ? Jelas tidak. Karena inilah tugas Perawat, baik di Indonesia, maupun dunia, yakni menjaga, merawat dan melayani kesehatan masyarakat. Teriring doa, semoga Perawat Indonesia dan dunia mampu melewati masa sulit seperti yang terjadi saat ini. Semoga. (Nurman)

Baca juga : Menahan Rindu , Seorang Perawat yang Merawat Pasien Coronavirus Terisak Menangis Melihat Anak Perempuannya

Mengapa Diwajibkan Cuci Tangan Sebelum dan Sesudah Berkunjung? Ini Alasannya | Bloggout

Medianers ~ Untuk menangkal penyebaran infeksi nasokomial, pengunjung diingatkan  selalu cuci tangan, baik sebelum, maupun sesudah kontak dengan pasien di rumah sakit. Hal itu disosialisasikan oleh pemangku kepentingan melalui pengumuman di setiap pintu masuk bangsal rawatan, atau pintu masuk ruangan.

Pengumumannya kurang lebih tertulis seperti ini, "diwajibkan cuci tangan sebelum dan sesudah berkunjung." Pengumuman tersebut ditujukan untuk setiap orang yang berkunjung, tanpa kecuali.

Khusus untuk petugas di rumah sakit, cuci tangan lebih sering dilakukan, sebab cuci tangan bagian dari Standar Prosedur Operasional (SPO). Ada 5 momen penting petugas melakukan cuci tangan, diantaranya; sebelum kontak dengan pasien. Sebelum tindakan aseptik. Setelah terkena cairan tubuh pasien. Setelah kontak dengan pasien. Dan, setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien.

Mencuci tangan bagian dari budaya. Tidak semua orang mau dan mampu melakukannya, meski sudah ada himbauan maupun peringatan tertulis di setiap pintu masuk. Masih saja ada yang malas atau lupa melakukannya. Jika tidak dibiasakan, maka cuci tangan tidak akan menjadi sebuah budaya.

Atas dasar itu, di rumah sakit ada namanya komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Komite tersebut bertugas membuat standar pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit, sekaligus melakukan evaluasi terhadap kepatuhan petugas melakukan tindakan cuci tangan, sebagai salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi.

Selain Komite PPI (internal), petugas kesehatan di rumah sakit senantiasa juga akan dinilai oleh tim eksternal, bernama Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Yang dinilai bukan hanya petugas rumah sakit saja, tapi juga pengunjung, adakah diajarkan, diajak, dan difasilitasi cuci tangan. Jika ada, maka penilaiaan rumah sakit tertentu akan mendapatkan nilai bagus dari KARS.

Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit, tidak ada salahnya diadopsi di ruang publik, atau di kantor, dan tempat pelayanan umum. Sebab WHO menyatakan,  " save lives, clean your hands ." Kemudian, mengingat pandemi Coronavirus dewasa ini sangat mengkhawatirkan.  Hendaknya, disediakan pula cairan cuci tangan, serta ditempelkan pengumuman, " diwajibkan cuci tangan sebelum dan sesudah berkunjung." Semoga.(Nurman).

Baca juga : RSUD dr Adnaan WD Sediakan Cairan Cuci Tangan Steril dalam Rangka Pengendalian Infeksi Nasokomial

Pernyataan Achmad Yurianto, Jubir Covid-19 Menuai Kegaduhan| Bloggout

Medianers ~  Pernyataan Achmad Yurianto selaku juru bicara Covid-19 menuai komentar negatif di channel youtube Deddy Corbuzier, video dipublikasikan tanggal 17 Maret 2020. Saat tulisan ini diterbitkan, video tersebut telah ditonton sebanyak 2,7 juta pengguna. Dan, mendapatkan 26 ribu komentar, serta trending di Youtube, Rabu (18/3).

"Kita menyadari betul, rumah sakit- tempat tinggal sakit. Beberapa rumah sakit lah. Dia menjaga citranya, jangan hingga ketahuan orang, bahwa aku merawat pasien Covid-19," ucapnya, sembari direspon oleh Deddy Corbuzier, "Oh my good," sembari menghela nafas panjang.

"Kalau ketahuan, semua pasien lain nggak mau datang," tambah Achmad Yurianto. Lalu direspon oleh Deddy, "wow w...wow." Lalu disambung oleh Achmad Yurianto," this is bussiness." Mendengar itu, "wawww," kata Deddy sembari terheran. "Itu yang terjadi," ulas Achmad Yurianto. "Shit," jawab Deddy. "Kalau gitu, selamat datang di Indonesia," tambah  Achmad Yurianto. Deddy menimpali, "waw, waw, " sembari menepuk meja. " Pekerjaan Anda bertambah banyak dong pak," tambah Deddy.

Kemudian Achmad Yurianto mencontohkan bagaimana mekanisme atau prosedur sistim rujukan yang benar, yakni melakukan pemeriksaan duluan. Jika pasien perlu dirujuk maka diantar oleh petugas, dan dalam pengawasan, bukan dengan cara menolak. Serta Achmad Yurianto membandingkan dengan  rumah sakit Pertamina yang mendedikasikan sebagai rumah sakit yang siap menampung pasien Covid-19, karena telah mengosongkan rumah sakit tersebut untuk merawat pasien suspect Covid-19.

"Paling tidak terdapat mekanisme yg dijalankan. Dan kemudian, bila memang dia akan merujuk, rujuklah dengan benar. Sehingga beliau (baca: pasien), tidak usah ngomel-ngomel gitu lho. Saya dibiarkan, ditelantarkan. Kan misalnya itu. Inilah yang jadi PR besar kita. Kita tau bahwa rumah sakit itu, tidak lagi mengemban fungsi sosial, ya. Rumah Sakit itu bisnis kok kini . Hotel yg room boys-nya Nurse gitu loh," tambahnya dalam mnt ke 5, dengan durasi obrolan 35 mnt, 36 detik.

Singkat kabar, percakapan antara Achmad Yurianto dengan Deddy Corbuzier itu, menuai kegaduhan, karena telah menyinggung nama baik profesi. Seperti  profesi Perawat misalnya, sebagaimana komentar akun WD, "tolong tarik kata-kata Anda soal room boys-nya Nurse. Saya, kami dan banyak rekan - rekan seprofesi Nurse sangat tersinggung. Pemisalan Anda menurut saya sangat tidak tepat. Apalagi ditengah pandemi Covid-19. Perawat dan dokter adalah lini terdepan menghadapi ini. Show your respect," komentarnya.

Sebetulnya masih banyak komentar pro & kontra yg bikin gaduh terkait tayangan video tersebut pada situasi yg tidak tepat ini. Merujuk pada Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/Menkes/199/ 2020, maka Achmad Yurianto selaku juru bicara Covid-19, nir wajib mengomentari, yg bukan tugasnya. Sebab, tujuan dibuat juru bicara Covid-19 merupakan untuk bisa berkomunikasi dengan benar. Yakni membentuk kenyamanan, bukan kegaduhan.

Sementara itu, Tomy Suganda membuat petisi di change.org, yang mana tuntutannya meminta permohonan maaf Achmad Yurianto kepada Perawat yang telah berjibaku melayani pasien di rumah sakit. Jelang tulisan ini diposting, sudah 2.310 orang yang menandatangani petisi tersebut.

"Saya meminta bapak memohon maaf atas ucapan yg telah bapak sampaikan, ditengah kedukaan sejawat kami yang mati karena berjuang merawat pasien-pasien suspect corona. Teganya bapak mainkan kata profesi kami menggunakan analogi yang menyakiti. Mari kita bekerja dan berjuang dalam bencana corona dengan saling menghargai satu sama lain, " demikian suara poin tuntutannya. (Editor: AW)

Baca juga : Perawat Paling Rentan Terinfeksi Coronavirus, Ini Alasannya

Tanganmu, Infeksimu : Ketika Anjuran Cuci Tangan Digaungkan| Bloggout

Medianers ~ Meminjam kata 'harimaumu, mulutmu', yang diplesetkan sebagai, 'tanganmu infeksimu' bermaksud menguraikan anjuran cuci tangan yg masih dianggap sangat krusial dewasa ini.

Sebab, sahabat penulis yang bekerja di layanan kesehatan, pernah kena hardik sang galat seseorang pengunjung, waktu dia meminta pengunjung tersebut cuci tangan sebelum masuk ruangan konsultasi.

"Tidak perlu juga aku disuruh cuci tangan. Yang akan tewas itu, permanen jua tewas. Bukan lantaran Coronavirus ini juga aku harus cuci tangan," tolak pengunjung tersebut.

Sebetulnya, anjuran cuci tangan tersebut demi kebaikan beserta. Juga demi kesehatan pengunjung tersebut. Sebab tangan adalah media infeksi paling potensial.

Telapak tangan berserta jari, merupakan organ tubuh paling acapkali digunakan, misalnya bersalaman, mendapat kembalian uang selesainya belanja. Atau membayar belanja pada kasir.

Yap, tangan tak jarang dipakai untuk memegang suatu benda, dan jari tangan juga difungsikan buat memencet sesuatu, mencongkel, menarik, mengambil, dan lain-lainnya.

Berbagai penelitian oleh ahli kesehatan menyatakan bisa pembaca googling seketika, menyatakan bahwa, ribuan bahkan jutaan bakteri atau kuman terdapat  di tangan.

Sebab tangan paling acapkali bersentuhan menggunakan benda, manusia, hewan & lainnya. Jadi tangan menjadi 'pintu masuk' bagi organisme yg tidak terlihat secara kasat mata. Yang mampu menginfeksi manusia.

Oleh karena itu, tahun 2009 Badan Kesehatan Dunia, WHO. Telah mengkampanyekan melalui slogan save lives, clean your hands . Kurang lebih artinya, lindungi hidupmu, bersihkan tanganmu.

Kampanye tadi ditujukan secara dunia, dikenal menggunakan kata kewaspadaan universal. Namun, apakah kampanye cuci tangan yang digalakkan WHO, sukses di Indonesia?

Budaya-cuci-tangan

Atau adakah seseorang mencuci tangan saat memegang makanan yang akan dimasukan ke mulut? Lalu, pembaca simpulkan saja sendiri hasil survey tersebut. Secara umum, mungkin mencuci tangan belum membudaya di Indonesia.

Banyak faktor yang mempengaruhi tidak terbiasanya seseorang cuci tangan, karena terbatasnya  fasilitas cuci tangan, baik cuci tangan kering menggunakan bahan kimiawi, atau cuci tangan di bawah air mengalir.

Kesadaran mencuci tangan, mulai tumbuh setelah adanya penyakit Covid-19. Dibuktikan, berebutnya masyarakat buat menerima hand sanitizer. Di area publik pun, telah banyak juga disediakan cairan cuci tangan, terbuat menurut bahan kimia tadi.

Kampanye cuci tangan juga seringkali digaungkan di media massa, sehingga membangun pencerahan publik bahwa, cuci tangan merupakan hal penting, yg tidak sanggup diabaikan.

Semoga budaya cuci tangan akan terus dipromosikan, kendati suatu hari nanti Covid-19 tak lagi mengintai. Mengingat tanganmu, infeksimu, yang bisa mendatangkan penyakit kapan saja. (Nurman)

Baca juga : Cara Cuci Tangan Menggunakan Antiseptik (Hand Sanitizer)

Kok Bapak Itu Bebas Keluar Masuk Rumah Sakit, Ini Ceritanya | Bloggout

Medianers ~ Tidak seperti biasanya, tiba-tiba saja penulis diprotes oleh keluarga pasien saat masuk gerbang menuju ruangan kerja di rumah sakit. Gerbang dijaga oleh 3 orang sekuriti. "Lah bapak itu, kok bebas masuk," kata keluarga pasien yang sedang dicegat oleh sekuriti.

Lalu, sekuriti memanggil saya, "Bang, tolong Abang jelaskan pada ibu ini. Mengapa Abang kami biarkan masuk, " pinta salah seorang sekuriti. Saya balik badan. Lalu menjelaskan, bahwa saya adalah petugas, yang memang menggunakan pakaian bebas. Seketika, ibu itu, mengerinyitkan dahi.

Mungkin dalam hatinya berkata, "kok pakai baju bebas." Tapi, ia akhirnya angguk-angguk saja, setengah paham. Tidak jadi komplain. Sekuriti pun mempersilahkan saya pergi. Sembari mengucapkan terima kasih telah menjelaskan.

Pembaca, sejak pandemi Covid-19 yang disebabkan Coronavirus merajalela, dan menginfeksi manusia di berbagai belahan dunia, hingga ke Indonesia. Nyaris layanan kesehatan mengeluarkan aturan ketat, dalam jam kunjungan, serta 'menghalalkan' petugas kesehatan menggunakan baju bebas datang dinas.

Peraturan itu, hanya berlaku sementara waktu, hingga situasi dinyatakan aman. Untuk memutus mata rantai penularan infeksi, maka petugas dibolehkan oleh manajemen rumah sakit mengenakan baju bebas. Setelah sampai di ruangan masing-masing, petugas mengganti pakaian dengan baju kerja yang telah disediakan.

Tips-berkunjung-rumah-sakit

Terkait ini, tahun 2011, penulis pernah mempublikasikan sebuah tulisan berjudul, 'Seragam Dokter dan Perawat Media Infeksi Nasokomial,' di Medianers. Poin dari tulisan tersebut, mengulas tentang temuan peneliti dari Israel, yang menyatakan bakteri berbahaya, terdapat 60 persen di seragam dokter dan 65 persen seragam Perawat.

Sehingga seragan Dokter dan Perawat yang digunakan di rumah sakit, sebaiknya tidak kontak dengan orang luar. Demi memutus mata rantai penularan, maka seragam petugas rumah sakit sebaiknya tidak dibawa pulang. Atau ditinggalkan saja di rumah sakit. Persis seperti aturan yang dikeluarkan pihak rumah sakit tempat penulis bekerja saat ini.

Kebijakan tersebut, juga berlaku bagi pengunjung. Namun, cara dan metodenya berbeda. Penunggu pasien, hanya boleh satu orang. Bisa bergantian, dengan catatan tidak boleh usia di atas 65 tahun, atau di bawah 12 tahun. Paling penting pendamping pasien sedang dalam kondisi sehat.Kira-kira demikianlah peraturan jam bezuk di tempat penulis bekerja, dan telah disosialisasikan sejak pertengahan bulan Maret 2020.

Selain menertibkan pakaian petugas, serta jam kunjungan. Gerbang masuk ruang rawatan juga dijaga ketat oleh sekuriti. Pedagang asongan dilarang memasuki area rumah sakit. Sekuriti bekerja keras juga memberikan edukasi pada setiap pengunjung yang melewati gerbang. Pengunjung dianjurkan serta diajarkan cara cuci tangan, menggunakan cairan kimia yang telah disediakan. Dengan harapan, rantai penularan infeksi bisa diputus. (Nurman)

Komentar Apoteker tentang Perawat| Bloggout

Medianers ~ Seorang Apoteker bernama Marleni Latif Calysta, tertulis bekerja di Dinas Kesehatan, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mengungkapkan pengalamannya, selama berinteraksi dengan profesi Perawat di pelayanan kesehatan. Pengalamannya itu, diposting di Facebook pada hari Rabu, 25 Maret 2020.

Berikut, Medianers tulis ulang, & edit beberapa tatanan bahasa, tanpa mengurangi atau melebihkan maksud berdasarkan goresan pena yang dibagikan Marleni Latif Calysta. "Ah, cuma Perawat ji. Bukan ji Dokter, Apoteker, atau energi kesehatan lain. Itu yang kadang timbul diucapan segelintir orang," tulis Marleni Latif Calysta. Selanjutnya, Medianers tampilkan secara utuh ungkapan Apoteker tadi.

Siang ini, Saya menulis kisah nyata yang Saya alami tentang  Perawat.  Ah, Perawat ji. Terkadang dan bahkan sering Saya dengar orang berucap itu, ketika seseorang bertanya. Apa kerjanya? Ah Perawat ji. Yah, Perawat ji. Baik aku beritahu kamu ya.

Ketika Papa Saya sakit. Saya wajib ke Puskesmas , yg duluan Saya kunjungi bagian registrasi. Disana yang Perawat. Lanjut ke Poli, dilayani Dokter. Dan sebelumnya ditangani sang Perawat, (inspeksi tensi, rekam medik, dll). Ketika akhirnya wajib mengurus rujukan, yg input acum online pula Perawat, & akhirnya lanjut ke tempat tinggal sakit rujukan.

Meski aku orang kesehatan. Apalagi engkau yg bukan orang kesehatan, dalam keadaan orang tua sakit, kita pasti akan ada rasa panik yg menyebabkan kita kebingungan mau kemana memulai urusan. Sehingga aku putuskan bertanya di bagian loket pendaftaran , disana saya temui Perawat.

Ternyata, Perawat lagi yang melayani, ke poli Dokter ahli, ada pula Perawat yang duluan menyapa, & waktu aku wajib menunggu berjam-jam, Dokter pakar datang ke poli, (karena dokternya sedang dalam ruang operasi), maka si mak yang ternyata merupakan Perawat , dialah yang menenangkan kami seluruh yang antri dengan mengajak kami bercerita dengan sangat empati & prihatin.

Bahkan di luar dari tugasnya sempat menawarkan jajanan atau kue kepada keluarga pasien kelaparan, termasuk ke Papa saya juga. Betapa mulia hatimu Perawat, mampu mengendalikan dan mengatasi  situasi yang membosankan  sampai dokter tiba.

Setelah diperiksa dokter dan hasilnya keluar, saat itu  sayapun kehilangan arah, teriak histeris tak sanggup mendengar diagnosa Papa. Seorang pasien pun setelah kami juga keluar ruangan dengan  tangisan. Sang Perawat keluar memeluk saya dan juga pasien yang lain.

Buk. yang sabar, ini semua kehendak Allah.  Ayuk semangat, kita tetap berobat, semoga hasilnya baik. Pasti ada jalan terbaik. Suaranya yang lembut bisa sedikit membuatku tenang.

Halloo. Saya menelpon teman dekat utk curhat. Alhamdulillah teman ini memberikan motivasi, dan kekuatan serta beberapa teori yang bisa memberiku semangat.  Ternyata, rkteman ini pun juga seorang Perawat.

Selama bolak balik ke rumah sakit, berusaha berobat, saat lapar tak tertahankan. Saya harus membeli nasi kotak dari seorang penjual. Saat Saya akan membayar, "bu ini gratis, tidak usah dibayar," katanya. Loh kenapa? tanya saya. "Setiap hari saya bawa 20 kotak nasi lauk, yang 10 Saya jual dan yang 10 lagi Saya gratiskan. Hanya ini yang bisa Saya lakukan. Untuk menolong pasien, karena Saya  belum punya STR utk bekerja," jawabnya.

Oh. Ibu tenaga kesehatan? Tanya Saya. "Iya aku Perawat Bu. Tapi baru lulus belum terdapat STR," ungkapnya.

Masya Allah. Betapa mulia hatimu Perawat. Singkat cerita, akhirnya Papa harus masuk perawatan. Di ruang rawat inap , yg selalu stay 24 jam, ada Perawat yg berganti shift, mereka bahkan hanya duduk di kursi menunggu pasien & famili pasien termasuk aku .

Bergantian berteriak, Suster, lihat saudara termuda Saya. Bu, cepat anak saya kejang-kejang

Suster, cairannya habis. Suster, cepat panasnya naik lagi. Ibu, verbannya wajib diganti lagi. Suster kapan dokternya tiba? Dan seterusnya, bla bla bla. Semua memanggil meminta pertolongan.

Mereka merupakan Perawat yg bahkan baru mau duduk telah, dipanggil ke kamar yg lain lagi. Baru mau makan, makanannya ditinggal memenuhi panggilan pasien. Kadang makanan mereka tinggalkan hanya buat membarui urine bag, dan lain-lain.

Kadang saya mengintip dari kembali pintu. Ah, kasian mereka ternyata tidak bisa tidur mengurus pasien dan famili pasien yang cerewet. Dengan sabar dan tenang. Bahkan waktu ada famili pasien yg sok kaya, sok punya jabatan, mereka permanen memperlakukan sama menggunakan yg lain.

Masihkah kalian bilang Perawat ji ?

Mungkin kalian belum pernah masuk ICU atau mungkin kalian hanya sekedar mengunjungi keluarga kalian pada ICU. Mau tau misalnya apa keadaan di ICU? Saat terpaksa Papa Saya harus di ICU, melihat sekeliling pasien terbaring tidak berdaya, selang pada pasang pada badan mereka. Yah, selang penyelamat hayati aku namakan.

Aku ngeri sekali tinggal dalam ruangan ini Papa yang terbaring tak berdaya berbisik  padaku. "Lenny, janganmi menangis, ko harus kuat iye, mungkin ini Allah kasih lihatko supaya bisa menambah ilmumu, siapatau nanti ada pasien yang harus kamu tolong juga," tutur Papa.

Betul istilah papa. Setiap hari di ruangan itu, Saya melihat perjuangan pasien-pasien melawan & berjuang hayati. Ada yang membaik dan ada yg memburuk, bahkan tewas dunia. Di ICU, Perawatnya luar biasa, berdasarkan Saya bahkan lebih luar biasa lagi menurut ruangan yg lain.

Mengapa? Mereka sama sekali tidak tidur, bahkan mungkin duduk pun mereka nir bisa. Jiwa kemanusiaan mereka luar biasa, bukan hanya tugas, berlari dari pasien yang satu ke pasien yg lain. Saat ada pasien yg bersamaan gawat, 1 bahkan tiga pasien bersamaan. Ya ampun. Mereka sangat lincah luar biasa, silih berganti merawat pasien tapi mereka tetap hening.

Bahkan mereka seperti ustadz, setiap saat mengajari kita berdoa, (mungkin panik kita lupa berdoa). Menelpon Dokter atau konsul dengan Dokter jaga, serta menulis  di buku. Saat sedikit ada waktu buat mereka menghela nafas. Saya lihat mereka berdiri terpaku, mata mereka seakan tak berkedip melirik pasien yang satu ke pasien yang lainnya. Dibalik masker mereka, aku pun bisa mengenal jiwa tulus mereka lewat tatapan mata mereka setiap saat pada pasien.

Yah masker, mereka sangat butuh masker.

Saat ada pasien yg tewas global & yg lain gawat. Mereka sangat risi, sampai 1 diantara mereka saya lihat nir makan minum sama sekali. Sampai sore, saat Papa Saya gawat mereka sangat care, nir terdapat yang mau meninggalkan shift, padahal telah waktunya berganti dengan petugas selanjutnya.

Mereka repot bersama Dokter, berusaha segala cara memperjuangkan keselamatan Papa saya. Sampai akhirnya Papa saya tidak bisa bertahan dan pulang dalam sang pencipta, Allah SWT. Spontan air mata para Perawat berjatuhan , mereka terisak seperti Papa merupakan orang tua mereka.

Apakah menangis pula tugas seorang Perawat ?

Bukan. Ini karena Perawat punya hati yang tulus dan ikhlas dalam merawat pasien.  Terus, sekarang lagi trend Covid-19. Bagaimana kalian melihat Perawat. Mereka siaga mulai dari Poli, UGD, berlari menjemput pasien saat masih dalam mobil, bertindak cepat bersama paramedis menangani pasien sampai dalam ruang isolasi.

Bahkan saat keluarga pasien mencak-mencak marah, segera ditangani. Mereka loh, yang jadi pelampiasan kemarahan kalian?  Apa mereka melawan ? Tidak ! Apa mereka meninggalkan pasien ? Tidak !  Ketika keluarga pasien tak sabar, panik,  mereka tetap diam, selincah mungkin menangani, dan berusaha  menyelamatkan pasien.

Saat pasien  Covid-19, (ODP, PDP) mereka juga garda terdepan bersama tim kesehatan lainnya menangani pasien.  Dengan mengeyampingkan keselamatan mereka. Apakah kalian belum tau pekerjaan Perawat ? Cerita ini hanya 20% dari tugas yang mereka lakukan selama ini.

Saya tak sanggup jadi Perawat, makanya Saya jadi Apoteker. Tapi, kami tetap sama melayani  masyarakat dengan cinta kasih, tulus, dan ikhlas. Terima kasih teman-teman Perawat. Terkhusus Perawat ICU Bahteramas yang merawat almarhum Papa Saya waktu itu. (Desember 2018 hingga 9 Januari 2019).

Semangat teman-teman Perawat dan tim medis lainnya, yang  bertugas menangani kasus COVID-19. Semoga kita semua di berikan kesehatan dan keselamatan, dan  COVID-19, segera berlalu. Aamiin. Terakhir, bukan Perawat ji. Tapi Perawat itu luar biasa. (Penulis Marleni Latif Calysta/ Editor Nurman)

Baca juga : 10 Cara Menjadi Perawat Hebat

Perawat jadi Saksi Kelahiran dan Kematian| Bloggout

Medianers ~ Nyaris setiap waktu Perawat menyaksikan kelahiran dan kematian. Tampak, ada suka dan ada pula duka. Mayoritas orang tua sangat bahagia mendapatkan bayi mungil, terkadang air matanya meleleh perlahan disela-sela bola mata.

Ada juga famili yang meraung-raung nir mendapat atas kepergian orang tercinta. Seakan ruangan 'pecah' & 'buncah' sang isak tangis keluarga melepas kepergian. Semua itu, nyaris disaksikan Perawat hampir tiap saat pada pelayanan kesehatan.

Situasi itu pulalah yg mengajarkan Perawat buat selalu berempati, baik dalam famili yg sedang bahagia, maupun yang sedang dirundung duka. Terkait, merawat pasien menjelang ajal, dikenal dengan fase terminal.

Pada fase terminal, Perawat tetap memberikan asuhan keperawatan, bio, psiko, sosial dan spritual. Pentingnya memberi bimbingan spiritual pada pasien jelang ajal,  telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek spiritual merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya.(Nurman).

Baca juga : Ketika Hadapi Persoalan Ini Bikin Perawat Stress

Cara Mencegah dan Merawat Penyakit Virus Corona di Rumah Secara Mandiri| Bloggout

Medianers ~ Virus adalah parasit yang membutuhkan tempat hinggap untuk hidup dan berkembang. Virus menumpang hidup pada inang, (sel yang menampung virus). Inangnya adalah manusia dan binatang.

Cara virus masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernafasan & saluran pencernaan, & lain-lain. Paling populer saat ini, virus masuk melalui mulut, dan hidung, misalnya virus corona.

Ketika virus menyerang inang, maka terjadi reaksi penolakan oleh sistim pertahanan tubuh seseorang. Bentuk respon adalah terjadinya bersin. Saluran pernafasan berusaha mengeluarkannya secara spontan. 'Hasyiiin," begitu bunyinya.

Selain itu, sistem pertahanan tubuh insan ikut merespon, bernama sistem limpatik. Dalam sistem limpatik, masih ada sel darah putih yg disebut limfosit, makrofag, dan sel pembentuk antibodi.

Sitem tadi berfungsi melawan benda atau mahkluk asing yang masuk ke dalam tubuh manusia. Seperti virus corona contohnya. Terjadilah perang baku hantam antara virus menggunakan sistem pertahanan tubuh, dimaksud.

Apabila pertahanan tubuh dijebol, maka insan akan menujukkan tanda-tanda flu, batuk, dan demam. Namun, jika pertahanan tubuh berhasil memukul mundur, maka tubuh nir menerangkan tanda-tanda apa pun. Paling hanya, bersin-bersin.

Jika manusia bersin, atau batuk maka sebaiknya lakukan etika bersin dan batuk. Yaitu menutup mulut dan hidung dengan  tisu, lalu tisu dibuang ke tong sampah tertutup. Karena saat bersin dan batuk , akan keluar droplet (percikan mengandung cairan).

Etika-bersin-batuk-corona-virus
Etika bersin dan batuk/ Ilustrasi by Canva

apabila nir terdapat masker atau tisu, maka saat bersin, arahkan hidung, lisan & wajah tertunduk ke ketiak, lalu ditutup menggunakan siku. Agar droplet tidak menempel ke meja, benda, atau ke orang lain yang ada di depan.

Selanjutnya, manakala ingin meludah, atau membuang batuk bercampur dahak atau air liur, jangan dibuang sembarang tempat, tapi buanglah ke WC, atau ke tabung tertutup kedap, diisi cairan desinfektan. Sedapat mungkin jangan hingga ludah & dahak terpapar dalam orang lain.

Seterusnya, perkuat sistim pertahanan tubuh dengan kuliner bergizi, dan konsumsi vitamin C & suplemen yg masih ada pada butir-buahan atau sayuran. Juga jaga istirahat dan tidur, agar tubuh tetap fit, & nir gampang terserang penyakit lainnya.

Berhubung terbatasnya sarana kesehatan di Indonesia. Jika, pembaca mengalami, bersin, batuk, disertai demam lebih berdasarkan 38 derajat celcius. Maka langkah yg wajib dilakukan adalah pakai masker, jangan dulu keluar tempat tinggal , dan berinteraksi dengan orang lain.

Lakukan isolasi berdikari. Tidak usah dulu kontak menggunakan orang lain. Jaga kebersihan rumah. Lingkungan didesinfeksi menggunakan cairan desinfektan yang dijual dipasaran. Semprotkan pagi dan sore hari. Agar famili dalam rumah tidak tertular.

Selanjutnya minta tolong belikan indera pengukur suhu, (thermometer), dan obat flu, batuk, & penurun demam, dan obat multivitamin yang dijual bebas di Apotek, pada keluarga di rumah. Dengan catatan tetap jaga jeda hubungan, minimal 1 meter. Serta baca anggaran pakai menggunakan akurat, pada etiket obat.

Cek suhu secara berdikari di tempat tinggal . Jika suhu lebih dari 38 derajat celcius lakukan kompres menggunakan cara kain dibasahi air hangat kuku, lalu letakkan di kening dan ketiak. Tujuannya buat menurunkan demam.

Apabila flu, batuk, & demam semakin parah, ditandai dengan seperti kesulitan bernafas, sesak, dan semakin susah beraktifitas, bahkan disertai diare. Maka segera bawa ke tempat tinggal sakit. Jangan lupa memakai masker.

Sampaikan keluhan, Anda saat pada Triase. Yaitu tempat sebelum masuk ruangan UGD. Katakan, bahwa Anda mengalami keluhan, bersin, flu, batuk, demam dan disertai sesak nafas, serta bertambah sesak saat beraktifitas.

Kalau ada diare juga sampaikan, apa lagi kalau ada kontak dengan orang lain dari wilayah terpapar sebutkan dengan jujur.  Karena kejujuran bisa memutus mata rantai penularan infeksi. (Nurman, Praktisi Keperawatan)

Baca juga : Tanganmu, Infeksimu : Ketika Anjuran Cuci Tangan Digaungkan

Dilema Virus Corona bagi Perantau dan Pemerintah Daerah| Bloggout

Medianers ~ Bersileweran imbauan dari ranah, agar perantau untuk sementara waktu tidak usah pulang kampung. Imbauan tersebut menghadirkan dilema dan polemik, bagi perantau maupun bagi pemerintah daerah di Sumatera Barat, (Sumbar).

Imbauan muncul, bukannya tak berdasar, mengingat penyebaran virus corona kian masif. Tercatat, pada hari Senin, 29 Maret 2020,  di situs resmi pemerintah provinsi Sumatera Barat bahwa, "Orang Dalam Pemantauan (ODP) mencapai 1.898 orang. PDP sebanyak 49 orang, dan positif 9 orang."

Diketahui, pasien positif pertama kali diumumkan masyarakat Bukittinggi, Kamis, 26 Maret 2020. Pasien tersebut kontak menggunakan suaminya yang sebelumnya dari Malaysia. Hal serupa pula dialami sang salah satu pasien positif Covid-19 di Sumbar, ia memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta.

Setibanya di Padang, Ia demam, sempat dirawat di rumah sakit,  beberapa hari kemudian, setelah hasil laboratorium keluar. Ia dinyatakan positif. Artinya, virus corona dibawa dari luar daerah. Agar orang di ranah tidak terinfeksi lagi. Maka dilakukan tindakan pencegahan berupa imbauan, agar perantau atau siapa pun tidak perlu pulang ke kampung, demi memutus mata rantai penularan.

Apa daya, orang Minang, (Sumbar) terkenal menggunakan perantaunya, terdapat dimana-mana. 'Beban berat bersinggulung batu' jika melarang perantau pergi kampung, apa lagi waktu ini, situasi krisis pada rantau. Seperti Jakarta & Malaysia. Kalau nir berdagang, kelangsungan hidup perantau jelas terancam. Kondisi itu, juga butuh dukungan dari sanak famili pada ranah.

Mayoritas orang Minang, 'menggalas' kerjanya di rantau. Otomatis, usaha demikian terdampak sang kebijakan 'lock down' negara tetangga, seperti Malaysia. Juga di ibukota Jakarta memberlakukan status darurat corona, warga diimbau buat berdiam pada tempat tinggal . Akhirnya dilaporkan ribuan orang perantau Minang menuju Sumatera Barat.

Seperti di Kabupaten Padang Pariaman, misalnya, dikutip dari situs resmi pemkab Padang Pariaman bahwa, " hingga Minggu (29/03/2020), jumlah perantau yang masuk ke Kabupaten Padang Pariaman terus meningkat mencapai angka 2.744 orang."

Hal senada juga disampaikan oleh Irwan Prayitno Gubernur Sumbar. Ia memperkirakan jumlah pendatang atau perantau yang masuk melalui wilayah perbatasan sudah mencapai ribuan orang sejak mewabahnya isu virus corona. (Sumber: kompas.com). Namun, data pasti berapa jumlah totalnya, tidak disebutkan.

Pemerintah wilayah provinsi Sumatera Barat, didukung oleh pemerintah Kabupaten/ Kota, Tentara Nasional Indonesia, Polri & instansi terkait memberlakukan penjagaan ketat di setiap perbatasan Sumbar. Posko didirikan. Terjadi pengawasan ketat. Kata Gubernur, kebijakan tersebut bukanlah 'lock down' tapi diseleksi yg mau masuk Sumbar.

Sejauh ini, kebijakan tersebut menghadirkan polemik. Terutama di media sosial. Banyak yang mendukung kebijakan pemerintah daerah, dan tak sedikit pula yang menentang. Pendukung menganjurkan karantina wilayah saja. Sementara, sebagian  perantau sangat mengeluhkan kebijakan demikian.

Ya, bagaikan mencari jarum dalam tepung, hendaknya tepung tidak berserakan, dan jarum mampu didapatkan, tanpa tertusuk & terluka. Penulis empati betapa beratnya beban moral, & sosial yg dipikul kepala wilayah demi menjaga keselamatan warga yang dipimpinnya. Juga, betapa peliknya kehidupan yang dirasakan perantau, misalnya maju kena mundur kena.

Bagi perantau ingin pulang kampung, agar mereka tidak sampai ke ranah. Dikirimkanlah mereka biaya untuk penyambung hidupnya dan keluarganya. Di Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Pariaman sudah terbiasa dengan budaya badoncek. Mengumpulkan uang secara spontan.

Selama ini, orang rantau sudah banyak jua membantu orang kampung. Mereka tulang punggung ekonomi keluarga & wilayah, mereka pahlawan devisa. Yang acapkali mengirimkan uang & bantuan ke kampung halaman. Musibah ini, tidak satu pun orang rantau menginginkannya. Hidup mereka terjepit.

Sekedar diketahui, orang di kampung juga nyaris bernasib sama. Harap-harap cemas pula dengan krisis kesehatan, sosial dan ekonomi yang  sedang melanda. Juga sedang mengharapkan bantuan, karena usaha di kampung mulai terimbas seperti halnya di Jakarta dan daerah zona merah lainnya.

Setidak-tidaknya, tiap menurut kita yang punya kelebihan harta, dan memiliki sanak saudara terutama yang tinggal di wilayah zona merah. Tanyakanlah apa kabarnya, apakah ia telah makan? Bantulah mereka, kirimkan uang. Galang dana. Jika itu, memungkinkan. Seandainya nir mampu, kita saling berkirim doa, & saling menguatkan.

Hindari perdebatan, perselisihan, dan saling menyalahkan. Yang sanggup menguras tenaga. Sementara, menggunakan berdebat, dan saling menyalahkan itu, tidak sanggup merubah keadaan. Hendaknya, yuk saling mendoakan, supaya krisis ini cepat berlalu.

Bagi perantau yang telah terlanjur pulang. Mohon ikuti protokol dari pemerintah daerah, jangan dulu membaur di kampung. Lakukan isolasi diri secara mandiri di rumah selama 14 hari. Kemudian laporkan dengan jujur kepada Satgas Covid-19 atau Puskesmas setempat, bahwa 'sanak' baru saja pulang dari rantau. Terakhir, Jaga jarak aman, dan jaga kesehatan di perjalanan. (Nurman)

Baca juga : Cara Mencegah dan Merawat Penyakit Virus Corona di Rumah Secara Mandiri

Pesan BNPB, Cara Cegah Covid-19| Bloggout

Medianers ~ Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengirim pesan pencegahan lewat Short Message Service, (SMS) secara reguler kepada pengguna kartu GSM. Berikut pesan yang dikirimkan.

"Agar terhindar berdasarkan penyebaran Covid19 : hindari kerumunan serta jarak orang dengan orang dimanapun berada wajib lebih dari 1 meter," demikian pesan BNPB lepas 16 Maret 2020.

Selanjutnya, BNPB mengirim pesan, "bila demam/ batuk, istirahat di rumah. Pakai masker, jaga jeda 1 meter, makan kuliner bergizi agar lekas pulih. Bila memburuk, hubungi 119," pesan dikirim 25 Maret 2020.

Dan, pada tanggal 30 Maret 2020 pesan BNPB adalah, " Isolasi diri bukan hukuman, tetapi cara agar orang sakit COVID-19 dapat sembuh dan tidak menulari orang lain. Lindungi diri, lindungi sesam," demikian pesannya. (AW)

Baca juga : Cara Mencegah dan Merawat Penyakit Virus Corona di Rumah Secara Mandiri

Jam Besuk RSUD Adnaan WD Payakumbuh| Bloggout

Medianers ~ Jam besuk di RSUD Adnaan WD Payakumbuh di hari biasa yaitu ada dua sesi, diantaranya jam besuk pagi mulai pukul 11.00 WIB sampai dengan 13.00 WIB. Kemudian jam besuk sore pada pukul 16.00 WIB sampai dengan 19.00 WIB.

Sehubungan menggunakan ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi global dan bencana nasional, sehingga manajemen RSUD dr Adnaan WD ikut tanggap akan hal itu, maka ada perubahan jadwal jam besuk pada RSUD Adnaan WD Payakumbuh.

Kepastian itu, tertuang pada peraturan kunjungan RSUD dr Adnaan WD yang ditandatangani dr.Efriza Naldi, Sp.OG selaku Direktur primer RSUD dr Adnaan WD dalam lepas 16 Maret 2020, & diberlakukan tanggal 17 Maret 2020 sampai batas ketika yang belum ditentukan.

Adapun poin yg tertuang dalam anggaran jam besuk atau kunjungan pasien adalah :

  1. Kunjungan besuk pasien rawat inap untuk sementara ditiadakan.
  2. Penunggu Pasien hanya 1 orang  dan pergantian penunggu diskrining oleh sekuriti di gerbang utama.
  3. Pendamping pasien rawat jalan hanya 1 orang yang sehat.
  4. Pendamping pasien di atas usia 65 tahun dan di bawah 12 tahun dilarang memasuki area rumah sakit.
  5. Setiap pengunjung yang datang wajib melakukan cuci tangan di pintu masuk, dan menggunakan masker.
  6. Pengantar surat, paket, pesanan, dititipkan ke sekuriti.
  7. Pedagang makanan keliling dilarang memasuki area rumah sakit.

Ikesma Peduli Penanganan Covid-19, Wakil Walikota Berikan Apresiasi| Bloggout

Medianers ~ Sebagai wujud kepedulian Ikatan Eks SMAN 1 Payakumbuh (Ikesma), dalam menanggulangi Covid-19, maka segenap pengurus dan anggota ikut menyumbangkan Alat Pelindung Diri (APD) ke sejumlah layanan kesehatan di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

"Hari ini kita menyerahkan bantuan APD ke beberapa loka layanan kesehatan di Kota Payakumbuh. APD kami serahkan dimulai hari ini hingga Jumat, " kata dr. Rita Danianti, Sp.Jp, selaku Ketua Pelaksana Bakti Sosial, didampingi Ns.Lily Yanti, S.Kep & beberapa anggota Ikesma, waktu menyerahkan APD pada depan IGD, RSUD Adnaan WD, Rabu (8/4).

Dokter Rita menambahkan, "kami dari Ikesma SMAN 1 Payakumbuh merasa peduli dan terpanggil untuk ikut serta meringankan beban Pemko Payakumbuh, memerangi penyakit Covid -19 ini. Setelah ini, kami juga akan mengantarkan bantuan APD ke Dinas Kesehatan,  dan Rumah Sakit Yarsi Payakumbuh," tambahnya.

"Selain itu, kami pula donasikan APD ke 8 Puskesmas yg ada di Payakumbuh, dan 2 Puskesmas yg ada pada Kabupaten 50 Kota. APD yang akan dibagikan antara lain, sebesar 65 pasang baju Hazmat, 65 kaca mata Google, 80 kotak masker bedah, & 105 kotak sarung tangan," lanjut dr.Rita.

Kepedulian Ikesma, diapresiasi oleh Erwin Yunaz, Wakil Walikota Payakumbuh, didampingi dr. Efriza Naldi, Sp.OG, Direktur Utama RSUD dr Adnaan WD beserta jajaran, ketika menerima donasi APD di RSUD dr Adnaan WD Payakumbuh.

"Kami mewakili Pemko Payakumbuh, memberikan apresiasi pada Ikesma, atas kepeduliannya yang telah menyumbangkan APD, untuk kebutuhan tenaga kesehatan di Kota Payakumbuh. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh petugas kita di layanan kesehatan. Setiap bantuan dari donatur kami catat dan dokumentasikan," kata Erwin Yunaz. (Nurman)

Di Hari Kesehatan Sedunia 2020, WHO Beri Dukungan pada Profesi Perawat dan Bidan | Bloggout

Medianers ~ Setiap tanggal 7 April diperingati sebagai Hari Kesehatan Dunia, dan dirayakan setiap tahun oleh komunitas kesehatan dunia, serta didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).  Sejak digelar pada tahun1950, maka tahun 2020 merupakan tahun spesial bagi profesi Perawat dan Bidan, sebab WHO  mengusung tema, " memperkuat peran perawat dan bidan dalam kesehatan dunia, ." Tema itu diusung, karena peran vital perawat dan bidan menjaga kesehatan dunia.

"7 April 2020 adalah hari untuk merayakan pekerjaan perawat dan bidan, sekaligus untuk mengingatkan para pemimpin dunia tentang peran penting yang mereka mainkan dalam menjaga dunia agar tetap sehat. Perawat dan Bidan termasuk petugas kesehatan lainnya berada di garis depan dalam menanggulangi COVID-19," demikian rilis WHO di situs resminya.

"Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan apa pun. Saat ini, banyak perawat menempatkan diri mereka di garis depan dalam pertempuran melawan Covid-19. Laporan ini adalah pengingat akan peran unik yang mereka mainkan, dan seruan untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk menjaga dunia tetap sehat, " kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Kemudian, dimasa pandemi Covid-19 ini, WHO mengingatkan kembali peran yang pernah Florence Nightingale lakukan. Florence Nightingale lahir 12 Mei 1820, ia adalah sosok perempuan pemberani, ia pelopor Ilmu Keperawatan modern. Florence Nightingale satu-satu relawan wanita dikenal dengan "The Lady with the Lamp" atau bidadari berlampu. Masa itu, pada tahun 1853, Florence Nightingale mengumpulkan dan merawat korban perang Krimea.

Atas jasa Florence Nightingale tersebut, WHO mengingatkan kembali pada dunia, bahwa profesi perawat ikut menjaga kesehatan dunia sejak ratusan tahun nan lampau, dibuktikan oleh Florence Nightingale. "Kami menyerukan dukungan Anda pada Hari Kesehatan Dunia untuk memastikan bahwa tenaga keperawatan dan kebidanan cukup kuat untuk memastikan bahwa setiap orang, di mana pun akan mendapatkan perawatan kesehatan yang mereka butuhkan," demikian pernyataan WHO di situs resminya.  (Nurman)

Auto 2000 Adakan Service Gratis di RSUD dr Adnaan WD| Bloggout

Medianers ~ Auto 2000 Bukittinggi kolaborasi dengan Auto 2000 Payakumbuh adakan pelayanan service gratis untuk pemilik mobil produk Toyota di halaman parkir belakang RSUD dr Adnaan WD, Kota Payakumbuh, Rabu 8 April 2020.

"Sebelumnya kami berterima kasih atas bisnis & pengabdian bapak dan bunda, lantaran sudah sebagai garda terdepan pada pencegahan Covid-19. Sebagai bentuk terima kasih, kami berdasarkan Auto 2000 Bukittinggi ingin menjaga kebersihan tunggangan bapak dan mak sekalian dalam bentuk program Health Campaign," istilah Sudarto, Service Head Auto 2000 Bukittinggi.

"Adapun service gratis yang kami berikan merupakan inspeksi filter cabin, pemeriksaan blower AC, & inspeksi evaporator dengan pemeriksaan AKI, dan penyemprotan air fresh desinfektan. Sedangkan buat cuci snow wash kami menaruh voucher pada pelanggan, buat ditukarkan ke Auto 2000 Bukittinggi," tambah Sudarto.

Menanggapi itu, dr. Indra Fahlevi, dokter garda terdepan, pemilik Yaris S Limited, tahun 2011 memberikan komentarnya, " terima kasih Auto 2000 Bukittinggi-Payakumbuh atas kepeduliannya, sudah menaruh service perdeo & merawat kesehatan kendaraan beroda empat kami," katanya.

Senada dengan itu Ns.Bismar, S.Kep selaku Kabid Keperawatan RSUD dr Adnaan WD sekaligus sebagai pelanggan setia Toyota, didampingi Ns.Novera Akmal, S.Kep, pemilik Kijang Innova memberikan apresiasi, "salut pada Auto 2000 atas kepeduliannya. Mendatangi & memberikan layanan service mobil perdeo, pada kami," tuturnya.

Sementara itu, Roni Febrizal alias Roni Bombay Sales Executive Auto 2000 wilayah Bukittinggi - Payakumbuh, didampingi Edo Ronaldo,  Sales Excecutive Auto 2000 Payakumbuh mengatakan, " sebanyak 35 mobil produk Toyota dengan bermacam type milik karyawan RSUD dr Adnaan WD yang kami service hari ini," ujarnya.

"Health Campaign ini kami adakan selama masa Covid-19, dan bukan hanya di RSUD dr Adnaan WD saja, tapi juga di layanan kesehatan lainnya, seperti di RSAM Bukittinggi juga sedang kami agendakan. Sedangkan bagi tenaga kesehatan berdomisili di Payakumbuh yang memiliki mobil Toyota, juga kami berikan voucher service spesial hingga 30 April 2020 , di bengkel Auto 2000 Payakumbuh, " pungkas Roni Bombay. (Nurman).

Jenazah Perawat Ditolak, PPNI Payakumbuh: "Kami Berduka"| Bloggout

Medianers ~ Penolakan pemakaman  jenazah perawat berinisial NK, oleh sekelompok warga di Jawa Tengah, membuat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berduka. Tak terkecuali di Kota Payakumbuh.

"Penolakan pemakaman sejawat kami oleh sekelompok warga di Jawa Tengah, membuat kami berduka, "kata Ns.Vanda Sandriana, S.Kep, Ketua DPD-PPNI Kota Payakumbuh, Sabtu 11 April 2020.

"Saya mengimbau sahabat perawat pada Kota Payakumbuh, agar memasang pita hitam di lengan kanan. Sebagai bentuk solidaritas terhadap sejawat kita yang mangkat karena Covid-19," tambahnya.

"Sebagaimana seruan Ketua DPW- PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto, maka pita hitam digunakan mulai hari ini, sampai satu minggu ke depan. Dimulai tanggal 10-16 April," lanjut Vanda Sandriana.

Terpisah, Edy Wuryanto menyatakan PPNI sangat menyayangkan penolakan terhadap perawat yg telah berjuang di lini depan menangani Corona. Stigma negatif berlebihan tadi mengakibatkan kekecewaan.

?Kami sangat kecewa & prihatin atas respon hiperbola berdasarkan rakyat di lokasi pemakaman. Hal itu tidak sepantasnya dilakukan pada profesi perawat yg telah mempertaruhkan jiwa raganya,? Ungkapnya di Sekretariat DPW PPNI Jawa Tengah.

Kronologis kejadian, Perawat berinisial NK, berusia 38 tahun, tewas global di RSUP Dr. Kariadi Semarang, Jawa Tengah, Kamis pukul 12.25. Dia mangkat karena menangani pasien positif virus corona COVID-19.

Almarhumah ditolak dimakamkan pada pemakamam wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang oleh sekelompok rakyat. Akhirnya, jenazah perawat NK dimakamkan di pemakaman famili pegawai RSUP, Kariadi semarang.

Sejauh ini, jelas Rohman Azzam, Ketua Bidang Sistem Informasi dan Komunikasi, DPP PPNI bahwa, "perawat meninggal sudah ada 10 orang datanya, itu terjadi di berbagai tempat," jelasnya. (Nurman)

Penyebab, Tanda dan Gejala BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)| Bloggout

Medianers ~ BPH (Hiperplasia Prostat Benigna) adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra. BPH merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria. (Smeltzer dan Bare, 2002).

Sedangkan menurut Sabiston, (2004) BPH adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atauhiperplasia fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secarahistologi yang dominan adalah hyperplasia.

Penyebab BPH (Hiperplasia Prostat Benigna)

Penyebab pasti terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab, diantaranya :

  1. Dihydrotestosteron Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
  2. Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
  3. Interaksi stroma – epitel Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
  4. Berkurangnya sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat
  5. Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit

Tanda dan Gejala BPH (Hiperplasia Prostat Benigna)

Gejala iritatif meliputi :

  1. Peningkatan frekuensi berkemih
  2. Nokturia (terbangun pada malam hari untuk miksi)
  3. Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak/tidak dapat ditunda (urgensi)
  4. Nyeri pada saat miksi (disuria)

Gejala obstruktif meliputi :

  1.  Pancaran urin melemah
  2. Rasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak kosong dengan baik
  3. Kalau mau miksi harus menunggu lama
  4. Volume urin menurun dan harus mengedan saat berkemih
  5. Aliran urin tidak lancar/terputus-putus
  6. Urin terus menetes setelah berkemih
  7. Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan inkontinensia karena penumpukan berlebih
  8. Pada gejala yang sudah lanjut, dapat terjadi Azotemia (akumulasi produk sampah nitrogen) dan gagal ginjal dengan retensi urin kronis dan volume residu yang besar.

Gejala generalisata seperti seperti keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.  Berdasarkan keluhan BPH (Hiperplasia Prostat Benigna) dapat dibagi menjadi :

  1. Derajat I : penderita merasakan lemahnya pancaran berkemih, kencing tak puas, frekuensi kencing bertambah terutama pada malam hari
  2. Derajat II : adanya retensi urin maka timbulah infeksi. Penderita akan mengeluh waktu miksi terasa panas (disuria) dan kencing malam bertambah hebat.
  3. Derajat III : timbulnya retensi total. Bila sudah sampai tahap ini maka bisa timbul aliran refluk ke atas, timbul infeksi ascenden menjalar ke ginjal dan dapat menyebabkan pielonfritis, hidronefrosis.
Baca juga : Patofisiologi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)

Robohnya Benteng Terakhir Perlawanan Corona| Bloggout

Medianers ~ Sejak warga Indonesia terjangkit virus corona, maka petugas kesehatan dan layanan kesehatan dianggap sebagai garda depan untuk mengatasinya. Idealnya, tenaga kesehatan adalah benteng terakhir perlawanan, bukan sebagai garda depan.

Sebab, semenjak petugas kesehatan menjadi garda depan, poly yang sudah terinfeksi. Satu bulan terakhir dilaporkan ratusan orang garda depan tadi bertumbangan, pertahanannya lemah, gampang dirobohkan virus corona.

Jika tidak diantisipasi segera, ada kemungkinan beberapa 'benteng pertahanan', seperti Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terancam ditutup  di Indonesia, karena tenaganya telah tumbang.

Dikutip dari beritasumbar.com bahwa, "sebanyak 58 orang petugas medis yang bertugas di Puskesmas Kecamatan XI, Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan jalani karantina di Rusunawa Painan yang berada di kecamatan IV Jurai Kabupaten Pessel, Sumbar."

Sehubungan dengan pelaksanaan karantina tenaga medis dan tenaga kesehatan Puskesmas Koto XI Tarusan, maka pihak dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, menutup  sementara waktu pelayanan Puskesmas Koto XI Tarusan.

Pada hari yang sama, (16/4) diberitakan liputan6.com bahwa, " sebanyak 46 tenaga medis RSUP Dr Kariadi Semarang dinyatakan positif Covid-19. Bahkan, dari mereka adalah dokter spesialis yang bertugas di rumah sakit."

Senada dengan itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan, " sebanyak 46 energi medis sudah menjalani isolasi pada Hotel Kesambi Hijau semenjak 8 April 2020 kemudian."

Beberapa hari sebelumnya, (28/3) Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pada kompas.com, "hingga saat ini ada 61 tenaga medis di Jakarta yang terinfeksi Covid-19. Sebanyak 61 tenaga medis yang terinfeksi Covid-19 tersebar di 26 rumah sakit di Jakarta," ujarnya.

Dihimpun dari katadata.co.id, "tercatat, 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona. Rinciannya, 32 dokter dan 12 perawat." kata Ketua Umum FSP FARKES/R, Idris Idham.

Diduga penyebab rawannya tenaga kesehatan terinfeksi virus corona, karena  ketidak jujuran pasien menceritakan riwayat kontak saat berobat. Hal itu, diungkapkan Ganjar Pranowo di pikiranrakyat.com.

Selain itu, diduga karena petugas kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). Hal tersebut pernah diungkapkan Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih, pada tempo.com, "penyebabnya karena minimnya Alat Pelindung Diri," ujarnya. “Tapi petugas kesehatan tetap diminta kerja,” tambah Daeng.

Senada dengan Daeng, menurut  Harif Fadhillah, "tapi tentu utamanya harus ditelusuri riwayat kontak dan perilaku kerja termasuk kebijakan rumah sakit. Hanya saja mungkin yang terpapar karena tidak menggunakan APD yang lengkap yang layak," ucap Harif pada tempo.com.

Penularan virus corona pada petugas kesehatan, tidak saja terjadi di Indonesia. Negara maju seperti Italia pun mengalaminya, diberitakan oleh okezone.com bahwa sebanyak, 17.000 petugas kesehatan Italia terinfeksi virus corona, dan sebanyak 125 dokter meninggal.

Kian banyaknya petugas kesehatan terinfeksi corona pada Italia, menciptakan pemerintah setempat memanggil pulang petugas kesehatan yg sudah pensiun, buat pulang bekerja, membantu menangani pandemi covid-19.

Nyaris, persoalan Italia hampir mirip dengan Indonesia, kekurangan APD. "Kami tidak dapat lagi mengizinkan dokter kami, petugas kesehatan kami, dikirim buat berperang tanpa perlindungan terhadap virus," istilah presiden FNOMCeO (Asosiasi Kesehatan Italia), Filippo Anelli.

Sedangkan di Amerika, menurut Anne Schuchat, wakil direktur utama Agency for Toxic Substances and Disease Registry CDC, sebagaimana dipublikasikan suara.com bahwa, "sebanyak 19 persen terinfeksi corona adalah pekerja medis profesional, termasuk kematian 27 kasus."

Sebagai episentrium krisis pandemi di Amerika, maka Wali Kota New York, Bill de Blasio memohon bantuan pada Washington DC buat mengirimkan tenaga kesehatan, ke kotanya. Artinya, sekelas New York mampu dilanda kekurangan energi kesehatan oleh virus corona.

Jika disimak, apa yg terjadi dewasa ini, baik di Indonesia, Italia, Amerika juga global. Maka virus corona nir mampu dipercaya enteng. Semua unsur harus memeranginya sinkron kapasitas masing-masing.

Tidak mampu ditumpukan pada tenaga kesehatan, Tentara Nasional Indonesia, Polri, Gugus Tugas Covid-19, BPBD, Basarnas, dan instansi pemerintahan saja.

Menurut Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi sebagaiamana Medianers cuplik dari kompas.com bahwa, garda terdepan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah masyarakat.

"Konsep yg kami usulkan sebenarnya yg harus jadi garda terdepan itu warga . Dokter, tim medis ini, benteng terakhirnya," ujar Adib pada forum Dialog Crosscheck, Minggu (12/4/2020).

Dia mengungkapkan, warga ketika ini menjadi kunci memutus mata rantai penyebaran virus. Caranya adalah dengan menciptakan konvoi warga buat ad interim berhenti.

"Karena virusnya enggak bergerak, yg beranjak manusianya, jadi kalau insan bergerak, maka virusnya berkecimpung," ucapnya.

Terakhir, masyarakatlah garda depan harusnya dalam pemberantasan virus corona. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, kelurahan, Kecamatan dan Kota/ Kabupaten. Saling dukung mencegah penularannya. Agar benteng terakhir tetap kokoh. (Editor: Nurman)

Baca juga : Usulan PSBB di Sumbar, Disetujui Menkes

Asset Performance Management, Solusi Tepat Monitoring Produk Farmasi| Bloggout

Medianers - Dewasa ini, pengelola rumah sakit berpikir keras bagaimana cara efektif menggunakan anggaran. Sebab, manajemen rumah sakit tidak ingin “besar pasak daripada tiang” atau lebih besar biaya operasional daripada pemasukan.

Dulu, pihak rumah sakit bisa saja mengatur biaya atau tarif pengobatan dan perawatan untuk menutupi kekurangan tersebut, tapi kini tidak lagi. Sebabnya, tarif pengobatan dan perawatan telah diatur oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) melalui tarif INA-CBG's (Indonesian Case Base Groups).

Untuk mencegah masalah ini, beberapa rumah sakit di kota besar telah menerapkan pola lean management, sebuah metode yang digunakan untuk meminimalisir dan mencegah adanya pemborosan seperti SDM non-produktif dan kelebihan stok produk obat-obatan. Tentunya, lean management juga dapat memastikan ketersediaan obat-obatan melalui teknologi.

Teknologi yang dimaksud adalah Internet of Things (IoT). Pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999, IoT sendiri adalah sebuah sistem yang memudahkan komunikasi antar perangkat digital, tanpa membutuhkan bantuan manusia. Teknologi ini dibuat dengan tujuan memudahkan segala pekerjaan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang.

Di Indonesia, Telkomsel mengembangkan teknologi Internet of Things tersebut dengan tujuan membangun ekosistem digital melalui kerjasama dengan sejumlah partner terpercaya. Peluang kerjasama itu juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri di Indonesia sebagai bentuk proses lean management.

Tak hanya untuk model bisnis komersil / teknologi maupun supply chain industry, tentunya Internet of Things juga memberi berbagai keuntungan bagi industri kesehatan. Telkomsel IoT sekarang juga menyediakan solusi yaitu Asset Performance Management.

Pernahkah Anda membayangkan sulitnya menjaga kondisi obat-obatan, cairan infus, vaksin, bahkan yg lebih vital misalnya darah atau organ tubuh? Tentunya produk-produk tersebut wajib dicek secara terencana, demi mendapatkan data yg aktual & menghindari kemungkinan buruk yg terjadi, misalnya mesin pendingin yang meninggal secara datang-tiba atau syarat ruang kurang lebih yg nir mendukung bisa membuahkan fatal. Apakah pengecekannya dilakukan secara manual?

Contohnya dalam kasus donor darah. Darah yg diterima oleh pendonor, selanjutnya akan dibawa ke laboratorium untuk dicek kualitasnya sang Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD-PMI). Darah yang lolos menurut pengujian kualitas, kemudian disimpan pada ruang penyimpanan. Selanjutnya UTD-PMI menyalurkan darah dan komponen darah pada Bank Darah Rumah Sakit (BDRS Swasta maupun Pemerintah) yg membutuhkan.

Monitoring-Produk-Farmasi-dengan-telkomsel-IOT
Monitoring Produk Farmasi/ Dok : Telkomsel IoT

Di Bank Darah Rumah Sakit (BDRS), darah tersebut juga disimpan dengan alat yang beragam. Contohnya Cool Box yang memerlukan suhu di luar 2-6°C, Blood Refrigerator di luar suhu 2-6°C, Platelet Incubator danAgitator di luar suhu 20-24°C, Freezer di atas suhu –30°C, Suhu ruang di luar suhu 15-30°C, Cold room di luar suhu 2-8°C.

Bisa dibayangkan, dengan flow yang begitu panjang dan alat-alat penyimpanan yang begitu banyak, bagaimana bisa mengontrol kondisi darah dan komponen darah secara manual? Itu baru mengontrol kondisi darah dan komponennya agar memiliki kualitas yang baik, tentunya masih banyak lagi produk kesehatan yang harus dikontrol oleh Rumah Sakit.

Pastinya, akan sulit untuk menerima data, bahkan data yang diperoleh jua sanggup terjadi redundansi. Redudansi adalah kejadian berulangnya data atau deretan data yang sama pada sebuah database yang menyebabkan pemborosan media penyimpanan atau tidak efektif.

Lalu apa hubungan APM dengan kondisi tersebut? Nah, ini yang akan penulis jelaskan. Asset Performance Management / APM merupakan solusi teknologi berbasis BLE dari Telkomsel IoT yang membantu perusahaan dalam berbagai sektor industri untuk memonitor aset bisnis dalam real-time, memastikan kualitas dan kondisinya selalu maksimal.

Dengan menggunakan APM, akan sangat membantu manajemen rumah sakit untuk melakukan itu semua. Dengan beacon dan gateaway platform yang tertempel pada alat penyimpanan akan mengirimkan data parameter ke Bee. Bee ini adalah gateway yang selanjutnya meneruskan data yang didapat ke IoT Platform Telkomsel.

Di IoT Platform Telkomsel, pelanggan dapat menerima alert jika ada keadaan anomali yang terjadi.  Tidak hanya memberi peringatan / alerting, tapi dapat juga mengirimkan data secara otomatis dan akurat yang diperlukan untuk menjaga kualitas darah dan produk kesehatan lainnya.

Rumah Sakit dapat leluasa melakukan monitoring business goods melalui web dashboard dan mendapatkan data seperti temperatur, kelembapan, bahkan kondisi pencahayaan di lokasi penyimpanan secara real-time. Rumah Sakit juga akan mendapat report historis, notifikasi, alert, juga cross platform sehingga dapat menjaga kualitas produk tetap maksimal.

Dengan solusi monitoring aset yang terpercaya, perusahaan dalam industri kesehatan maupun yang lainnya akan mendapatkan efisiensi dalam transparansi penggunaan anggaran, memonitor supply chain, hingga memangkas biaya yang berlebihan. Kunjungi www.telkomseliot.com dan cari tahu bagaimana Asset Performance Management dapat mempermudah keseluruhan proses manajemen bisnis Anda.(Adv/ Nurman)

Usulan PSBB di Sumbar, Disetujui Menkes| Bloggout

Medianers ~  Usulan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sumatera Barat (Sumbar), disetujui oleh Menteri Kesehatan dr. Terawan Agus Putranto.

Keputusan PSBB di Sumbar, ditetapkan Menkes tanggal 17 April 2020 melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/260/2020.

?Usulan Pemerintah Sumatera Barat untuk PSBB sudah kami setujui, maka tinggal dilaksanakan sang mereka,? Kata dr. Terawan pada Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (17/4).

Melalui siaran pers, Kemenkes menyatakan bahwa, "PSBB dilaksanakan selama masa inkubasi terpanjang dan dapat diperpanjang bila masih terdapat bukti penyebaran."

"Kasus Covid-19 pada provinsi Sumbar sudah terjadi peningkatan & penyebaran masalah yang signifikan. Oleh karena itu, PSBB sudah harus ditetapkan di sana dalam rangka akselerasi penanganan Covid-19," terang Menkes.

PSBB di Sumatera Barat ditetapkan selesainya dilakukan proses kajian epidemiologi dan pertimbangan kesiapan wilayah dalam aspek sosial, ekonomi, serta aspek lainnya sang tim teknis.

Dikutip dari situs Pemprov Sumbar, Jumat (17/4) bahwa, masalah terkonfirmasi positif 62 perkara. Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebesar 206 orang, dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sejumlah 6.169 orang.

Sedangkan pasien terkonfirmasi positif dalam perawatan sebanyak 16 pasien, dan isolasi diri di rumah 29 orang, dan meninggal 6 orang, serta sembuh 11 orang.(Nurman)

Baca juga : Robohnya Benteng Terakhir Perlawanan Corona

Patofisiologi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)| Bloggout

Medianers ~ Patofisiologi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) adalah perubahan mikroskopik pada prostat terjadi pada pria usia  30 - 40 tahun. Bila perubahan mikroskopik berkembang, maka akan terjadi perubahan patologi anatomi pada pria usia 50 tahunan.

Perubahan hormonal menyebabkan hiperplasia jaringan penyangga stromal dan elemen glandular  pada prostat.

Teori Terjadinya BPH :

Teori Dehidrosteron (DHT) yaitu aksis hipofisis testis & reduksi testosteron sebagai dehidrosteron (DHT) pada sel prostat menjadi faktor terjadinya penetrasi DHT ke dalam inti sel yang mengakibatkan inskripsi pada RNA sebagai akibatnya menyebabkan terjadinya sintesa protein.

Teori hormon pada orang tua yaitu bagian tengah kelenjar prostat mengalami hiperplasia yamg disebabkan oleh sekresi androgen yang berkurang, estrogen bertambah relatif atau absolut. Estrogen berperan pada kemunculan dan perkembangan  hiperplasi prostat.

Faktor interaksi stroma dan epitel hal ini banyak dipengaruhi oleh Growth factor. Basic fibroblast growth factor (b-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada pasien dengan pembesaran prostat jinak.

Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a- reduktase. b-FGF dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi dan infeksi.

Teori kebangkitan kembali (reawakening) atau reinduksi dari kemampuan mesenkim sinus urogenital untuk berploriferasi dan membentuk jaringan prostat. Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.

Pada tahap awal selesainya terjadi pembesaran prostat, resistensi urin pada leher buli-buli & wilayah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sebagai akibatnya ada sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini diklaim fase kompensasi.

Jika keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi & nir bisa lagi buat berkontraksi sebagai akibatnya terjadi retensi urin yg selanjutnya bisa mengakibatkan hidronefrosis & disfungsi saluran kemih atas.

Adapun patofisiologi menurut masing-masing gejala yaitu : Penurunan kekuatan dan aliran yg ditimbulkan resistensi uretra adalah citra awal dan menetap menurut BPH. Retensi akut disebabkan sang edema yg terjadi dalam prostat yang mengembang.

Hesitancy (kalau mau miksi harus menunggu lama), terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi uretra. Intermittency (kencing terputus-putus), terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi.

Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli-buli. Nocturia miksi pada malam hari) dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.

Frekuensi terutama terjadi dalam malam hari (nokturia) lantaran hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter & uretra berkurang selama tidur. Urgensi (perasaan ingin miksi sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi) jarang terjadi.

Apabila ada disebabkan sang ketidak stabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter, Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urin keluar sedikit demi sedikit secara terencana lantaran selesainya buli-buli mencapai complience maksimum, tekanan pada buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan spingter.

Hematuri umumnya ditimbulkan oleh sang pecahnya pembuluh darah submukosa pada prostat mengembang. Lobus yang mengalami hipertropi bisa menyumbat kolum vesikal atau uretra prostatik, sebagai akibatnya mengakibatkan pengosongan urin inkomplit atau retensi urin.

Akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter) & ginjal (hidronefrosis) secara bertahap, dan gagal ginjal. Infeksi saluran kemih bisa terjadi dampak stasis urin, pada mana sebagian urin permanen berada dalam saluran kemih dan berfungsi menjadi media buat organisme infektif.

Karena selalu terdapat sisa urin dapat terbentuk batu endapan dalam buli-buli, Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuri. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistiitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis.Baca juga :Penyebab, Tanda dan Gejala BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)

Kuliah Keperawatan Sambil Kerja, Bisakah?| Bloggout

Medianers ~ "Apakah Saya bisa kuliah jurusan keperawatan sambil kerja," demikian pertanyaan sering diajukan pada penulis melalui pesan elektronik.

Jawabannya, sangat bisa. Tapi, yang mampu calon mahasiswa yg telah menuntaskan pendidikan Akademi Keperawatan (Akper), yg ingin melanjutkan ke pendidikan S1 Keperawatan dan profesi Ners.

Ada beberapa kampus swasta, misalnya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) yang ada jurusan keperawatan membuka acara kelas non reguler. Menerima calon mahasiswa yang sudah bekerja.

Program non reguler yaitu menyelenggarakan pendidikan tiga hingga 4 hari rendezvous pada 1 minggu. Jadwal belajar umumnya pukul 14.00 Wib- sampai terselesaikan atau sampai pukul 18.00 Wib.

Kecuali, pada hari Sabtu atau Minggu jadwal kuliah penuh dari pagi hingga sore. Begitu jua waktu praktek klinik keperawatan di rumah sakit, atau pada layanannya kesehatan, prakteknya tiga atau 4 hari dalam 1 pekan.

Bagi Perawat berstatus PNS, berhubung jadwal dinas shift, maka mereka sangat mudah menyesuaikan. Antara jadwal kuliah menggunakan jadwal bekerja pada layanan kesehatan.

Kemudian proses biar belajar, secara anggaran kepegawaian jua membolehkan melalui Surat Edaran Menpan RB nomor 4 tahun 2013, mengenai izin belajar dan tugas belajar.

Sedangkan calon mahasiswa Keperawatan yang bekerja di layanan kesehatan swasta, tergantung izin manajemen rumah sakit tempatnya bekerja. Kalau diizinkan, maka ia bisa kuliah sambil bekerja. (Nurman)

Baca juga : Informasi Detil Kuliah di Jurusan Keperawatan

TURP ( Trans Uretral Reseksi Prostat )| Bloggout

Medianers ~ TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ) adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik.

Tindakan  TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ) memerlukan pembiusan umum maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal.

TURP adalah operasi tertutup tanpa insisi serta nir mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan dalam prostat yg mengalami pembesaran antara 30-60 gr, lalu dilakukan reseksi.

Cairan irigasi dipakai secara monoton menggunakan cairan isotonis selama prosedur. Setelah dilakukan reseksi,penyembuhan terjadi menggunakan granulasi & reepitelisasi uretra pars prostatika.

Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter Foley 3 saluran no. 24 yg dilengkapi balon 30 mililiter, buat memperlancar pembuangan gumpalan darah menurut kandung kemih. Irigasi kandung kemih yg konstan dilakukan sehabis 24 jam apabila tidak keluar bekuan darah lagi.

Kemudian kateter dibilas tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter dingkat sesudah tiga-lima hari sehabis operasi & pasien harus telah bisa berkemih menggunakan lancar.

Indikasi TURP adalah tanda-tanda-gejala berdasarkan sedang hingga berat, volume prostat kurang menurut 60 gram dan pasien relatif sehat buat menjalani operasi. Komplikasi TURP jangka pendek merupakan perdarahan, infeksi, hiponatremia atau retensio oleh karena bekuan darah.

Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah striktura uretra, ejakulasi retrograd (50-90%), impotensi (4-40%). Karena pembedahan nir mengobati penyebab BPH, maka umumnya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.

Baca juga : Penyebab, Tanda dan Gejala BPH (Benigna Prostat Hiperplasia)

Gotong Royong Melawan Corona, Indonesia Disorot Media Internasional| Bloggout

Medianers ~ Semangat gotong-royong rakyat Indonesia melawan virus corona disorot media internasional. Yaitu The Straits Times, menempatkan berita di halaman utama, dengan kategori Top Stories, berjudul "Indonesians fight coronavirus with gotong-royong," dipublikasikan 19 April 2020.

Materi keterangan yang diekspos The Straits Times adalah, mengenai semangat kebersamaan masyarakat Indonesia, seperti warga perumahan pada penanganan corona, juga tentang pedagang kecil yg saling bantu membantu pada pemenuhan kebutuhan logistik, & relawan dan masyarakat menyumbangkan APD ke instansi kesehatan.

Straits Times jua menyorot mengenai, orang Indonesia manunggal pada semangat komunitas untuk membantu tetangga mereka yg membutuhkan. Begini kutipannya, "beberapa rakyat pada kompleks perumahan Cipageran Asri pada Jawa Barat berkumpul setiap hari untuk menyiapkan kuliner lezat buat tetangga yang menderita coronavirus."

Narasi The Straits Time berlanjut, "ketika laki-laki itu mencari perawatan di tempat tinggal sakit terdekat, tetangga lain memberinya masker wajah N95 dan mengirim pesan teks yang membesarkan hati: "Kami semua mendukung Anda. Mudah-mudahan, Anda pada kondisi yang baik."

Dilain tempat, juga menyorot seorang pedagang kecil bernama Mukroni. Straits Times menuliskan bahwa, pemilik kios seperti dia dapat membantu orang lain yang membutuhkan sambil mempertahankan bisnis mereka selama pandemi, yang menurut Mukroni krisis pandemi corona ini, lebih buruk daripada krisis keuangan 1998.

Skrinshut berita The Straits Times, Minggu (19/4).

Di Jakarta Timur, pemilik kedai kuliner Khumayah memasak nasi, mie goreng, orak-arik telur dan sayuran buat pengemudi ojek dan pedagang kaki 5. Meskipun usahanya telah menukik sehabis masyarakat Jakarta diperintahkan buat tinggal pada tempat tinggal buat mencegah penyebaran virus, beliau merasa terdorong buat membantu mereka yg lebih jelek.

Sebagaimana diterbitkan Straits Times, Khumayah, (29) mengatakan, "aku hampir menyerah," pungkasnya. "Tetapi kini , aku dapat membantu orang lain yang membutuhkan, yg pendapatannya bahkan turun secara drastis."

Straits Times juga mendeskripsikan tetang sektor kesehatan yang dibebani dengan kekurangan peralatan pelindung diri (APD). Dokter dan perawat yg bekerja pada layanan kesehatan, mendapatkan bantuan tambahan APD berdasarkan sukarelawan, menggunakan cara menggalang bantuan, termasuk membuatkan keterangan yg kredibel mengenai bahaya virus corona pada publik.

"Sebuah komunitas relawan mahasiswa yang membantu mengumpulkan sumbangan secara online buat membeli indera pelindung diri (APD) buat tempat tinggal sakit di semua negeri, termasuk terpencil Provinsi Papua & Nusa Tenggara Timur." narasi Straits Times.

Terpisah, semangat gotong-royong melawan virus corona ini, pula diimbau oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia mengingatkan rakyat supaya menumbuhkan perilaku bergotong royong dan saling membantu menghadapi pandemi Covid-19 waktu ini.

Ia mengatakan, "gotong royong dan partisipasi saling membantu bisa ditumbuhkan dari bawah," katanya saat membuka rapat terbatas laporan tim gugus tugas Covid-19 di Istana Merdeka, Senin 13 April 2020 yang disiarkan oleh berbagai media nasional. (Editor : Nurman/ Sumber: The Straits Times)

8 Langkah Mudah Daftar STIKes Perintis| Bloggout

Medianers ~ Covid-19 telah membatasi aktifitas manusia di Indonesia. Sebagai langkah pencegahan pemerintah menerbitkan keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pembatasan sosial juga berlaku di Sumatera Barat. Hal itu, berimbas pada penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru. Namun, STIKes Perintis memiliki 8 langkah mudah bagi calon pendaftar agar bisa mendaftar tanpa harus melanggar aturan PSBB.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Perintis berada di bawah naungan Yayasan Perintis didirikan pada tahun 1988. Memiliki 2 kampus, satu terletak pada Kota Padang & satu lagi, berada pada Kota Bukittinggi. STIKes Perintis mempunyai 8 Program Studi, antara lain: D-III Analis Kesehatan, D-IV Analis Kesehatan, D-III Gizi, S-I Gizi, D-III Keperawatan, S-I Keperawatan, D-III Kebidanan, dan Profesi Ners.

"Yayasan pioner didirikan pada 21 Juli 1988. Pendirinya merupakan Dr.H.Rafki Ismail, M.PH. Yayasan Perintis mempunyai dua sekolah tinggi, yaitu STIKes & Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI). Cikal-bakalnya adalah SMAK, diadakan dalam tahun 1988 & dikonversi sebagai AAK tahun 1994. Serta didirikan Akper tahun 1989. Hingga 2020, STIKes Perintis telah memiliki 8 Program Studi," kata Yohandes, SH. MH., Ketua Pengurus Yayasan Perintis Sumbar, beberapa waktu kemudian.

Menurut Yohandes, STIKes Perintis yang menyandang status terakreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), dan juga dilabeli akreditasi B oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM -PTKes) dalam agenda akan sebagai sebuah Universitas."Kami sedang mempersiapkan STIKes Perintis menjadi sebuah Universitas," ujarnya waktu memberi pembekalan mahasiswa baru Prodi Ners.

Berhubung, STIKes Perintis memiliki kapasitas dan pengalaman serta terakreditasi B. Maka itu, bagi calon mahasiswa baru yang ingin mendaftar, bisa secara daring. Terkait itu, ada 8 langkah mudah yang perlu diketahui, diantaranya: Langkah 1, calon mahasiswa baru melakukan pendaftaran pada website Perintis, beralamat di www.stikesperintis.ac.id.

Kampus 2, STIKes Perintis terletak di Jl. Kusuma Bakti, Gulai Bancah,  Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Langkah 2, calon mahasiswa baru bisa melakukan aktivasi ID & password melalui notifikasi yg dikirim ke alamat email yang didaftarkan. Dengan catatan, registrasi menggunakan akun gmail nir perlu melakukan aktivasi. Langkah tiga, yaitu calon mahasiswa baru, login pada laman login PMB. Selanjutnya langkah 4, calon mahasiswa mengisi formulir registrasi.

Dan, langkah 5 calon mahasiswa melakukan pembayaran melalui channel pembayaran yg ada pilihannya. Langkah 6, calon mahasiswa mengisi biodata. Langkah 7, calon mahasiswa melakukan ujian secara online, sinkron jadwal & durasi waktu yg tersedia. Terakhir langkah 8, melihat pengumuman kelulusan dan output test ujian online.

Adapun jadwal penerimaan calon mahasiswa/i baru untuk pilihan kuliah di STIKes Perintis kampus 2, terletak di Kota Bukittinggi adalah sebagai berikut: gelombang 1, jadwal pendaftaran 1 Februari 2020 sampai dengan 13 April 2020. Jadwal gelombang 2 dimulai pada tanggal 4 April sampai dengan 6 Juli 2020. Sedangkan gelombang 3, dimulai 7 Juli 2020 hingga 14 Agustus 2020.  (Adv/ Nurman)

Baca juga : Informasi Detil Tentang Kuliah di Jurusan Keperawatan

Menyoal Penggunaan Kata Paramedis| Bloggout

Medianers ~ Suatu ketika teman penulis pernah melakukan protes keras pada pimpinan saat rapat, agar pimpinan tidak lagi menggunakan kata paramedis untuk menunjukan identitas profesi. Tapi sebut saja nama profesi masing-masing, seperti perawat, bidan, radiografer, analis laboratorium, teknisi medis, apoteker, atau sebut tenaga kesehatan saja.

Sebab, arti kata paramedis di Indonesia maknanya keliru dan tidak tepat, seolah melecehkan salah satu profesi kata teman tersebut. Dikutip dari KBBI daring (kbbi.kemdikbud.go.id), mengartikan paramedis sebagai, "orang yang bekerja di lingkungan kesehatan sebagai pembantu dokter (seperti perawat)."

Padahal dalam UU No. 38 Tahun 2014 mengungkapkan, "perawat merupakan seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik pada pada juga pada Iuar negeri yang diakui sang Pemerintah sinkron menggunakan ketentuan Peraturan Perundang-undangan." Dan, pada UU tadi tidak satupun menjelaskan perawat sebagai pembantu.

Ketika itu, pimpinan kedap putusan bulat dan mengoreksi kekeliruannya untuk nir memakai istilah paramedis lagi dalam perawat, bidan dan energi kesehatan lainnya, tapi menjelaskan eksklusif nama profesi masing-masing. Tetapi, beberapa bulan terakhir penggunaan kata paramedis pulang mencuat.

Sejak pandemi virus corona, media daring nasional nyaris menuliskan kata paramedis, menjadi pengganti kata tim kesehatan atau tim medis. Tim dimaksud merupakan dokter, perawat, bidan, apoteker, analis laboratorium, radiografer, ahli gizi, perekam medis, supir ambulans, dan petugas kesehatan lainnya.

Penggunaan istilah paramedis bila dialamatkan pada profesi dokter, jua tidak tepat. Sebab profesi dokter dikelompokan sebagai tenaga medis, bukan paramedis. Yang termasuk dalam kategori tenaga medis itu merupakan dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi seorang ahli. Hal itu, diatur sang UU No. 36 Tahun 2014.

Masih berdasarkan UU No. 36 Tahun 2014, dalam BAB 1, Pasal 1 bahwa, "energi Kesehatan adalah setiap orang yg mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta mempunyai pengetahuan &/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang buat jenis tertentu memerlukan wewenang buat melakukan upaya kesehatan."

Kemudian, UU No. 36 Tahun 2014 pula tidak menggunakan istilah paramedis, yang terdapat hanya energi medis, tenaga psikologi klinis, tenaga keperawatan, energi kebidanan, tenaga kefarmasian, energi kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, tenaga keteknisian medis, tenaga teknik biomedika, dan energi kesehatan tradisional.

Jadi, penggunaan kata paramedis di Indonesia sebaiknya dihentikan untuk menggambarkan sosok tenaga kesehatan. Ada baiknya, kata paramedis diganti menjadi tenaga kesehatan saja. Dan, KBBI juga perlu merevisi makna dari arti kata paramedis yang ada saat ini, sebab defenisinya sangat keliru. Paramedis adalah kata serapan, yang diadopsi dari bahasa Inggris yaitu paramedic.

Pengertian paramedic di luar negri berbeda jauh dengan di Indonesia. Bagaikan langit dan bumi. Di Amerika, paramedic adalah seorang profesional berlisensi, yang fokus utamanya menyediakan layanan medis serta melakukan tindakan darurat tingkat lanjut untuk pasien kritis. Dikenal dengan layanan Emergency Medical Services. (Nurman)

AIPNI : Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia| Bloggout

Medianers ~ AIPNI adalah Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia. Organisasi ini berbentuk asosiasi yang beranggotakan institusi pendidikan tinggi keperawatan. AIPNI didirikan di Jakarta pada tanggal 29 Juni 2001 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

AIPNI mempunyai visi sebagai wadah institusi penyelenggara pendidikan yg berorientasi dalam upaya pemenuhan kebutuhan rakyat, pengembangan teknologi & ilmu keperawatan melalui penyelenggaraan proses pendidikan Ners yg berwawasan dunia.

Tujuan AIPNI adalah memberdayakan setiap institusi pendidikan Ners buat sebagai penyelenggara pendidikan yg bisa membentuk Ners yg berkualifikasi setara, bermartabat tinggi, dan bermanfaat bagi rakyat.

Dikutip menurut AD/ART AIPNI, Bab tiga, Pasal 8 bahwa, "AIPNI berazaskan kaidah & nilai-nilai yang terkandung pada penyelenggaraan pendidikan tinggi keperawatan serta nilai profesi keperawatan."

AIPNI berperan sebagai pusat training penyelenggaraan pendidikan ners di Indonesia, penelaah kebijakan yang berlaku bagi pendidikan tinggi keperawatan, inisiator kerjasama dengan sentra pendidikan ners pada luar negeri, pemprakarsa aneka macam aspek dalam sistem penyelenggaraan pendidikan ners pada Indonesia.

Adapun keanggotaan AIPNI sebagaimana tertuang dalam AD/ART Bab 1, Pasal 1, Ayat 1 adalah: "Anggota biasa AIPNI adalah setiap institusi pendidikan ners yang  memiliki ijin penyelenggaraan pendidikan ners secara  resmi dari pemerintah Indonesia dan dinyatakan menjadi anggota melalui tata cara penerimaan anggota."

Dan Ayat dua, berbunyi ," anggota luar biasa AIPNI merupakan institusi non-pendidikan ners yg mempunyai komitmen & donasi yang tinggi terhadap perkembangan pendidikan ners pada Indonesia dan sudah disetujui sang rapat pengurus harian & disahkan dalam Rapat Tahunan Anggota (RTA)."

Pengurus AIPNI terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, & Ketua dan anggota bidang-bidang yang mencakup :

Organisasi, Kurikulum dan Kebijakan pendidikan, Penjaminan Mutu

Pengembangan dan Penelitian, serta

Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri.

Selanjutnya, Ketua Regional meliputi :

Regional 1 (Aceh, Sumatra Utara, Riau, Riau Kepulauan, Sumatra Barat). Regional dua (Jambi, Bengkulu, Babel, Sumsel, Lampung). Regional tiga (DKI, Banten, Jabar)

Regional 4 (DIY, Jateng).

Sedangkan, Regional 5 (Jatim, Bali, NTB,NTT). Regional 6 (Kalsel, Kaltim, Kalbar, Kalteng), dan Regional 7 (Sulsel, Sultra, Sulteng, Sulut, Sulbar, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan  Papua). Informasi lengkap tentang AIPNI dapat diakses melalu situs resmi aipni-ainec.com.(AW)

Ingin Jadi Perawat, Kuliahnya Dimana ?| Bloggout

Medianers ~ Suatu ketika, Admin pernah diajukan pertanyaan oleh seseorang lewat pesan elektronik tentang, "kalau ingin jadi Perawat kuliahnya dimana? Bagaimana biaya kuliahnya? Serta berapa lama kuliahnya? Untuk itu, Admin coba menjelaskan melalui tulisan ini, mudah-mudahan bisa dipahami.

Apabila berminat sebagai Perawat, maka ambil jurusan D-III Keperawatan atau S1 Keperawatan. Kuliahnya sanggup pada kampus partikelir atau negri. Di kampus partikelir, umumnya bernama STIKes (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan). Sedangkan kampus negri, bernama Poltekes, singkatan menurut Politeknik Kesehatan. Atau di universitas milik negri, menggunakan nama Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK).

Tak dipungkiri, kuliah jurusan Ilmu Keperawatan akhir ini mulai diminati, sebagai akibatnya kampus Keperawatan swasta bermunculan. Di STIKes, nir hanya jurusan keperawatan saja, tapi ada bermacam jurusan, misalnya D-III Keperawatan, S1 Keperawatan, plus Profesi Ners, D-III Kebidanan, D-III Analis Laboratorium, & D-III Gizi, & lainnya.

Sedangkan pada Poltekes, juga ada jurusan Keperawatan, tapi dalam umumnya hanya menyelenggarakan pendidikan Diploma 3 (D-III) Keperawatan atau maksimal D-IV. Kelebihan kuliah di Poltekes merupakan porto lebih murah dibanding kuliah di kampus swasta, sebab Poltekes milik pemerintah. Untuk lulus jadi mahasiswa jurusan Keperawatan pada Poltekes juga terbilang kompetitif, persaingan sangat ketat.

Terkait : Alasan Memilih Keperawatan
Hal demikian juga berlaku di Fakultas Ilmu Keperawatan sebuah Universitas milik negri, biaya kuliah jurusan Keperawatan  tentunya lebih murah dibanding milik swasta, namun untuk lulus juga sangat ketat, karena persaingan tinggi. Pastinya calon mahasiswa/i baru banyak yang mendambakan kuliah di universitas milik negri. Fakultas Keperawatan hampir sudah ada di setiap universitas di Indonesia, seperti Unand, USU, Unpad, Unair, UI, dan lainnya.

Lantas, bagaimana dengan kampus Keperawatan partikelir? Sebetulnya lulusan kampus keperawatan partikelir, misalnya tamatan STIKes pula bisa bersaing di global kerja dengan lulusan universitas milik negeri atau Poltekes, hanya saja kuliah pada STIKes biaya kuliahnya lebih mahal dibanding kuliah di kampus milik negri. Jadi, saran penulis, usahakan ikut seleksi dulu pada Poltekes atau di universitas negri, apabila nir lulus, maka lanjut mendaftar di STIKes, milik swasta.

Agar lebih hemat, ambil saja jurusan D-III Keperawatan, lama pendidikan 3 tahun. Ketika telah jadi Perawat dan bekerja di layanan kesehatan, maka lanjutkan lagi kuliah ke S1 Keperawatan, tambah profesi Ners. Tentunya, atas izin tempat kerja. Kuliah sambil bekerja, biasanya disebut program non reguler. Jadwal kuliah menyesuaikan, biasanya perkuliahan 3 atau 4 kali dalam 1 minggu. (Nurman)

Terkait : Kuliah Keperawatan Sambil Kerja, Bisakah?

Komentar Keliru Warganet Terkait Covid-19| Bloggout

Medianers ~ Ada yang mengatakan berita covid-19 tidak perlu diupdate perkembangannya, apa lagi dibagikan di grup. Warganet dimaksud juga mengatakan, banyak penyakit lainnya yang perlu diberitakan seperti Asma, demam berdarah, dan malaria. Kenapa tidak diberitakan, cetusnya.

Ada juga  warganet membandingkan antara orang waras dengan orang gangguan jiwa, kenapa perlakuaannya berbeda terhadap protokol yang digaungkan pemerintah. Sementara, maaf 'orang gila' (baca : gangguan jiwa) dibiarkan saja. Dan, tidak tertular meski keluyuran.

Menanggapi hal itu, banyak pula komentar tambahan dari warganet  lainnya, terkesan ada sikap denail, menolak kenyataan, bahkan memberi cap berita yang dikabarkan wartawan, dan disebar oleh media kredibel sebagai berita hoax, yang tujuannya untuk menakut-nakuti masyarakat. Begitu tanggapannya.

Demikianlah gambaran komentar keliru yang penulis maksud. Idealnya warganet memberikan apresiasi pada media yang telah memberi liputan akan penyebaran virus corona, karena sudah mengedukasi, agar kita rakyat selalu waspada, dan menghindari daerah terdampak, atau zona merah.

Tanpa liputan tentunya kita menjadi buta akan ilmu pengetahuan. Manakala buta warta, alamat terjebaklah seorang dengan resiko & marabahaya. Dikutip menurut KBBI daring, fakta adalah adalah, "pemberitahuan; informasi atau keterangan mengenai sesuatu."

Sedangkan berdasarkan ahli bahasa, bernama Robert G. Murdick, "kabar terdiri atas data yang telah dihasilkan, diolah, diproses, atau kebalikannya yang digunakan buat tujuan penjelasan, penjelasan, uraian, atau menjadi sebuah dasar buat pembuatan ramalan atau sebuah keputusan."

Jadi keterangan atau kabar berkenaan menggunakan Covid-19 yang diberitakan wartawan atau awak media, sepantasnya dibaca, ditelaah, dihargai, sebagai bahan buat pengambilan keputusan bagi pembaca. Bukan dilabeli hoax, atau dihujat lantaran kita tidak siap menghadapi fenomena.

Masukan juga perlu disampaikan pada pengelola media daring bahwa, hindarilah judul mengandung clickbait terkait berita Covid-19. Clickbait adalah judul berita atau gambar yang digunakan oleh penyedia konten agar menarik banyak pengunjung dengan cara membuat judul sensasional.

Judul Covid-19 sensasional hanya mengundang kecemasan rakyat, jua mengundang debat kusir yang tak berkesudahan. Latar belakang pembaca sangat beragam, yg semuanya belum tentu bisa tahu maksud judul fakta. Terkadang hanya baca judul saja, kemudian berkomentar tanpa membaca isi keterangan.

Selanjutnya terkait logika penyakit Asma, hemat penulis sudah banyak media daring yang mengulas, silahkan berselancar di mesin pencari Google. Hanya saja tidak di-share karena bukanlah topik kekinian, dan penyakit Asma juga bukan penyakit menular yang perlu diwaspadai.

Begitu juga menggunakan Malaria, dan Penyakit demam berdarah, penyebarannya nir se-luar biasa penularan virus corona. Kemudian, apabila masyarakat terkena penyakit dimaksud obatnya telah terdapat, penatalaksanaan penyakit malaria & demam berdarah pada layanan kesehatan juga tidak menjadi persoalan.

Sementara Covid-19 masih sebagai dilema dunia waktu ini. Ini jenis virus baru, yang masih sukar dikendalikan penyebarannya sang pemerintah mana pun pada global ini. Termasuk negara super hebat sekali pun, seperti Amerika, Italia, dan beberapa negara lainnya di Eropa.

Seterusnya orang gangguan jiwa. Sangat naif lah kita berkata tidak ada yg terinfeksi virus corona, dilaporkan media daring peristiwa pada wilayah Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (31/tiga/2020) bahwa, seorang gangguan jiwa positif mengalami Covid-19. Terkait ini, kembali ke aktifitas membaca, warganet carilah informasi sebesar-banyaknya.

Terakhir, penyakit menular Covid-19 dirasakan sahih dampaknya sang kita, warga . Tidak ada yang menginginkan insiden ini. Telah memutus tali silaturahmi, menghambat perekonomian warga , menuai korban dimana-mana, dan telah membuat ancaman serius bagi petugas kesehatan di layanan kesehatan.

Untuk itu, ada baiknya menjadi penyedia konten bermanfaat, serta menjadi warganet bijaksana, baca informasi dengan seksama. Patuhi imbauan Majelis Ulama Indonesia, (MUI) dan jalani protokol tim gugus tugas Covid-19, agar bencana non alam ini segera berlalu. Dan, masyarakat kembali bisa beraktifitas seperti sedia kala. (Nurman)

close
Banner iklan disini